Nonton Film Joker, tak Seangker Review di Twitter

– NO SPOILER –

Udah cukup lama pengen banget nonton Joker karena tertarik baca reviewnya disana-sini. Cuma gak ada temen nontonnya, temen-temen preferensi filmnya yang manis romantis. Nunggu bapaknya bocils pulang keburu filmnya diputer di tipi. Nonton sendiri sih gak papa juga, cuma baca comment orang-orang kok katanya hati-hati kalau nonton sendiri takut nambah depresi. Temen sampe wanti-wanti kalau saya harus berada dalam kondisi happy sebelum nonton sendiri.

Akhirnya setelah memastikan kesehatan jasmani saya (abis kerikan gara-gara masuk angin..haha..), kesehatan rohani (pulang ibadah), kesehatan kantong (masih tanggal muda, cin), cap cip cup kembang kuncup pesen tiket Tix Id.

Kalau belum install, download TIX ID & dapatkan LoyalTIX Point 5000 setelah berhasil daftar TIX ID, terhubung DANA & melakukan transaksi pertama.
Kode: 2YUQJN http://bit.ly/tixinvite

Halah iklan.. šŸ˜šŸ˜

Anak-anak saya taro di Play n Learn sama mbak2 pengasuhnya sementara saya nonton. Walau tiket Play n Learnnya lebih mahal dari tiket nonton emaknya.. huhu… STOP! Gak boleh sedih. Harus bahagia kalau mau nonton Joker. (Auto pasang cengiran selebar Joker).

Dapet posisi bangku B deket lorong. Sebelah kosong. Sisanya orang-orang pasang-pasangan.. yelaah weekend-weekend menurut ngana bigimana? So far gak keliatan ada anak-anak sih. Baguslah orangtua disini cukup sadar diri buat gak bawa anaknya nonton Joker. Kursi terisi gak sampe setengahnya. Mungkin karena udah kelewat juga masa saya nontonnya.

Saya nonton jam 13.00 dan sampe bioskop jam 13 lewat karena ngurusin tiket bocils main dulu. Tapi ternyata filmnya masih belum mulai juga. Masih keisi iklan-iklan. Baru mulai jam 13.12.

Begitu film dimulai langsung suka sama tone warna filmnya. Paduan soft tone kebiruan dan vintage kayak editan foto-foto selebgram. Selain menggambarka era jadul tahun 1980-an sebagai setting filmnya juga menggambarkan suramnya kehidupan di Gotham City dan kehidupan Arthur Fleck, si tokoh utama. Tone warna ini juga tampak cantik saat berpadu dengan baju badut yang warna warni.

Karena bagian ini – NO SPOILER – part, jadi secara umum filmnya berkisah tentang kehidupan Arthur Fleck. Dari seorang yang gak neko-neko, pasrah, penurut sama orangtua, korban bullyan dan kekerasan menjadi Super Villain Joker.

Arthur tinggal dengan ibunya Penny Fleck di kota Gotham dan mencari nafkah sebagai badut. Saat itu kota Gotham lagi awut-awutan. Kumuh, banyak tikus, banyak kejahatan, layanan kesehatan dipotong pemerintah, hidup susah lah.

Disaat yang sama Thomas Wayne, bapaknya Batman (kelak) sedang mencalonkan diri jadi Walikota Gotham City. Batman masih piyik disini jadi masih Badboy eh Batboy ya. Di film ini baru ngeh juga kalau Joker sama Batman itu beda umurnya jauh bets. Karena Joker keliatan tua banget.

Brett Cullen pemeran Thomas Wayne umurnya baru 63, sementara Joaquinn Phoenix pemeran Joker 45 tahun. Tapi secara wajah kayak lebih fresh Thomas Wayne. Disitulah kita sadar bahwa skincare dan ketajiran adalah jawaban atas keawetmudaan wajah… haha.. #paansih.

Hidup Arthur digambarkan ketulo-tulo kalau orang Jawa bilang. Kayak yang apes banget melulu. Sudah jatuh tertimpa tangga. Hidup berdua dengan ibunya yang sakit-sakitan. Kerja sebagai badut diisengin dan dianiaya anak-anak jalanan. Digalakin bos dikerjaan. Dijahatin temen kerja yang licik, sampe niat baik ngajak becanda anak kecil di bus aja disemprot sama ibu si anak.

Puncaknya layanan kesehatan psikologis buat dia dipotong pemerintah sehingga dia gak bisa dapet obat-obat gratis lagi. Padahal obat itu membantu masalah psikologis dia selama ini. Dipecat dari kerjaan, dicari-cari polisi untuk kasus pembunuhan, ibunya stroke di RS, dan dia di ketawain netijen seGotham City karena video stand up comedy nya yang gak lucu viral di suatu acara TV. Kasian banget memang. Sampai disuatu titik balik dia menjadi penjahat, yang membuat sebagian penonton kayak memaklumi bahwa “oh wajar dia jadi jahat, udah jadi orang baik tapi dijahatin orang terus.”

Jadilah netijen membanding-bandingkan dengan Naruto yang katanya selalu memaafkan walau tersakiti.

Karena gak pernah nyimak kisah hidup Naruto jadi saya no comment disini.

Tapi betapapun kalau kita ngerasa hidup kita kok gini amat ya, kayak ibarat roda, kadang dibawah kadang rodanya ambles.. jadi kayak kapan diatasnya.. tetep usahain jadi orang bener, jangan tergoda buat jadi orang jahat. Sama kayak demo-demo kemarin, okesip kita gak suka RUU yang absurb banget. Gak papa demo, teriak-teriak protes. Syukur-syukur bisa ketemu anggota DPR, masuk TV dan ngetop seindonesia raya. Tapi jangan sampe anarkis apalagi kriminil… lhaa ini film Joker kenapa jadi ke pemerintah yaa?

Ya soalnya salah satu pemicu Joker yang basically kesehatan mentalnya terganggu (itu sebabnya dia langganan konsultasi dan dapet obat dari layanan sosial) karena stok obatnya dihentikan akibat budget dipotong pemerintah. Jadi ya pemerintah tolong BPJS nya dikawal terus supaya bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Dan kita jangan lupa bayar BPJS. Enak aja maunya gratisan doank.. tsaah udah kayak mamah Dedeh belum ngasih nasihatnya.

Dan apakah aman nonton Joker sendirian? Saya merasa fine-fine aja. Entah karena emang lagi dalam stable condition atau karena kehidupan emak-emak kadang lebih dramatic dan rungsing dari hidup Joker.

Adegan kekerasannya ada, mungkin di bioskop sudah disensor sana sini oleh LSF. Yang ekstrim saat Joker membunuh teman kerjanya. Itu diliatin bener secara brutal. Tapi gak bikin saya terbayang-bayang sama adegannya. Beda sama waktu saya secara gak sengaja nonton G30S/PKI saat penyiksaan. Sebentar doank. Paling 5 menit. Tapi terekam banget dan masih serem sampe saya setua ini.

Acting Joaquin Phoenix seperti banyak diperbincangkan orang memang jempolan. Baru liat dia kurus kering aja udah berasa totalitasnya. Cengirannya berasa phsyco tapi juga sad banget. Juga ketawanya yang kayaknya sakit banget dengernya.

Bagian terbaik buat saya adalah beberapa menit terakhir saat Joker (dan penonton) mendapati realita bahwa beberapa bagian kehidupannya adalah ilusi dan khayalan dia saja. Ikutan sedih karena pernah donk ya kita ngayal dan gak kesampean. Bedanya buat Joker khayalan dan kenyataannya nyampur jadi lebih sakit lagi dari lagu Kasih Tak Sampainya Padi.. eciyee..

Akhir kata recommended movie to watch. Pemain, skenario, warna warni film, musik semuanya bagus sih kata saya. Kalau takut nonton sendirian kabarin aja, tar saya temenin tapi beliin popcorn, milkshake sama nasi padang yaa… haha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s