Pengalaman Menginap di Rumah Sakit

Seumur-umur saya merasakan menginap di RS saat melahirkan kedua anak-anak saya. Diluar itu, semoga jangan pernah merasakan menginap di RS. Tapi awal bulan Februari kemarin untung tak dapat ditolak, dukun tak dapat bertindak..yhaa kok jadi asmara. Si kakak sakit.

Waktu itu kami pulang jalan-jalan dari Sumbar tanggal 3-5 Februari 2019, mungkin karena kecapekan atau salah makan, sampai di rumah besoknya si kakak muntah dan diare. Ditambah tidak mau makan.

Saya cuma kasih dia istirahat di rumah, tetapi karena tidak mau makan dan minum jadilah tambah lemah. Tanggal 7 malam-malam saya ke UGD kantor. UGD hanya kasih obat mual. Obat diare untuk anak tidak ada jadilah disarankan ke klinik terdekat yaitu klinik Dr Misbah.

Di dokter Misbah diberi obat diare dan mual. Diare memang reda tapi mual dan lemas sehingga tanggal 8 sesudah istirahat saya ke RS Eka di Pekanbaru. Begitu diperiksa dokter langsung diminta rawat inap. Anak saya menangis sejadi-jadinya sambil janji mau makan banyak. Tapi karena untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut memang harus dirawat dan diberi cairan infus.

Untungnya saya ditemani kakak saya, jadilah dia menemani anak saya sementara saya mengurus administrasi. Untuk rawat inap bagian administrasinya terpisah dengan bagian administrasi rawat jalan. Dari pintu masuk utama sesudah kantin Van Hollano di sebelah kanan kita belok ke kanan. Ruangannya di ujung sebelah kanan. Untuk daftar antri.. duh ternyata banyak ya yang mau dirawat inap. Mengisi form-form. Kebetulan saya dijamin kantor sehingga tidak perlu membayar di muka. Untuk dapat kamar pun antri. Akhirnya kami dapat kamar kelas VIP. Terdiri dari 1 tempat tidur untuk pasien, 1 kasur untuk penunggu, TV, kursi dan meja serta rak.

Tak lama suster mengantar toiletries, terdiri dari sendal jepit, sikat gigi dan gelas, sabun dan handuk.

Persis seperti hotel dan kebetulan dalam 10 hari ini saya menginap di 4 hotel berbeda, mulai dari Mulia Jakarta, Nuansa Maninjau, Novotel dan ditutup dengan Eka Hotel.. eh Eka Hospital.

Drama pertama tentu saat harus periksa darah dan pasang infus. Anak saya dasarnya penakut jadilah dia paranoid sendiri. Untung suster kepalanya super sabar dan kids-friendly jadilah bisa dipasang tanpa menangis.

Untuk menu lumayan. Nasi, sayur, 2 macam lauk pauk dan buah. Biasanya jenis menu sudah diedarkan sehari sebelumnya. Ada dua pilihan. Sayangnya beberapa menu pedas sementara anak saya tidak bisa makan pedas. Terus? Ya dimakan emaknya lah 😁😁.

O iya penunggu juga dapat makan kok. Tapi tidak selengkap pasien. Hanya 1 kotak. Isinya selama saya disana nasi ayam fried chicken, nasi goreng dan mie goreng.

Untuk break jam 10 dan jam 3 menunya monoton sih menurut saya, berkisar agar-agar, lapis mutiara dan sejenisnya. Ye kan orang sakit bukan orang mau kuliner yaaa..

Akhirnya setelah 2 malam disana, diijinkan pulang oleh dokter. Dan saatnya lihat tagihan. Jeng.. jeng..

Tolong dicatat kalau ini adalah tarif corporate. Tarif umum mungkin lebih mahal.

Tarif kamar per malamVIP 850.000

Tarif visit dokter spesialis per visit 210.000

Jasa layanan kesehatan per hari 50.000

Tarif dokter umum rp 75.000

Infus Asering 500ml 30.591

Laboratorium 916.550

Total dengan semua printilannya (termasuk sarung tangan, masker kertas dll) 4,2 juta.

Hiks kayaknya beti saja sama uang jalan-jalan 2 malam di hotel berbintang sekeluarga.

Mungkin itu sebabnya kesehatan adalah harta yang paling berharga selain keluarga… (Auto nyanyi soundtrack keluarga cemara).

Walau ini adalah pengalaman yang kalau bisa jangan sampai dialami, berikut tips kalau anak/ keluarga harus dirawat di RS :

– Sebisa mungkin kita ke RS ditemani anggota keluarga atau kerabat yang sehat. Karena perlu satu orang yang akan mondar mandir mengurus administrasi, beli printilan ke minimarket, beli makan dll serta satu orang untuk menemani anak.

– Bawa kartu asuransi, kepegawaian, kartu kredit atau segala bentuk jaminan pembayaran. Untuk praktisnya selalu taro di dompet saja.

– Bawa uang tunai. Walau kartu kredit dan debet segepok siapa tau mau beli pecel lele di warteg depan RS kan gak bisa gesek.

– Prekondisikan anak akan tindakan yang akan diberikan paramedis. Daripada bohong bilang gak sakit mending bilang “agak sakit, tapi kakak bisa peluk bunda kuat-kuat”.

– Pasang infus di tangan kiri. Just in case ada yang bengkak selama pemasangan atau pencopotan, agar tangan kanan lebih leluasa untuk dipakai beraktivitas. Sebaliknya untuk yang kidal.

– Bawa pakaian, handuk ganti, toiletries secukupnya

– Lebih enak pakai sendal daripada sepatu untuk pasien dan penunggu

– Bawa charger HP dan HP tentu saja

– Install gojek. go food sangat membantu penunggu

– Beli makanan ringan. Bisa untuk penunggu atau pengunjung.

– Penunggu perlu supplemen atau vitamin. Jangan sampai anak sembuh, ganti kita yang sakit

– Bawa barang kesukaan anak, seperti buku cerita, boneka, mobil-mobilan, dsb.

Akhir kata semoga kita semua diberi kesehatan dan tidak perlu mengalami pengalaman ini.

4 respons untuk ‘Pengalaman Menginap di Rumah Sakit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s