Menginap di Hotel Novotel Bukittinggi

Setelah sebelumnya kami menginap di Nuansa Maninjau dan juga survey penginapan di Aie Angek dan Mifan. Maka sekarang lanjut menginap di Hotel Novotel.

Saya ingat pernah foto di depan hotel sekitar tahun 2001 atau 2002 an. Waktu itu Bukittinggi belum secrowded sekarang. Hotelnya tampak megah berada di hoek antara jalan Agus Salim dan Jalan Istana dan persis di tusuk sate di sebrang jalan Ahmad Karim. Strategis, karena berada di sebelah Istana Bung Hatta dan hanya 300 meter berjalan kaki ke Jam Gadang.

Sekarang akhirnya bisa menginap disini juga. Setelah selama ini gak pernah berhasil booking via aplikasi karena selalu sudah sold selama weekend. Ini saya berhasil booking juga mungkin karena saya menginap di hari Senin. Rate dari Booking.com untuk kamar Deluxe twin 886.499 tanpa breakfast. Kenapa pilih tanpa breakfast karena ingin explore makanan di Sumbar yang memang endes marendes.

Sampai disana kami sore hari. Pas dapat 1 tempat parkiran dengan menggusur mobil hotel. Dari luar, kemegahan arsitektur hotel jadul yang sudah berdiri sejak tahun 1995 ini masih terasa. Hotel ini adalah hotel bintang 4 pertama di Sumatera yang didesain khusus oleh arsitek Thailand Lek Bunnag serta Bill Bensley dengan menampilkan sentuhan dan nuansa khas Minangkabau dan konsep arsitektur Islami.

Tampak depan hotel dengan desain gerbang yang mirip desain di masjid

Lanjut masuk ke dalam lobby hotel yang sempat berganti nama menjadi the Hills kemudian balik lagi ke Novotel. Layanan resepsionisnya baik, sudah standard layanan hotel yang dikelola grup Accord mungkin ya. Setelah pengalaman resepsionis yang kurang ‘standard’ di beberapa hotel disini jadi cukup appreciate.

Sambil menunggu disajikan minuman perpaduan air jahe dan punch yang jadi kayaknya rasanya gak masuk di lidah saya. Setelah itu naik ke kamar di lantai dua. Jadi walau mbak resepsionis dengan baik hati menawarkan untuk seluruh rombongan saya terpaksa saya tolak 😁. Coba enak ya pasti minta nambah-nambah.

Hotel ini tidak tinggi, hanya 4 lantai dengan 98 kamar. Mungkin itu sebabnya selalu sold out via aplikasi kalau weekend. Untuk go show langsung datang pesan di hotelnya, mungkin masih ada cuma agak lebih mahal dari aplikasi. Dan kalau bawa rombongan sirkus kayak saya kayaknya gak berani gambling datang ke Bukittinggi tanpa pesan sebelumnya.

View lobby hotel dari lantai dua

Liftnya sudah jadul bets..ya iyalah ya secara sudah 24 tahun. Anak-anak saya lebih suka lari-lari naik turun tangga langsung untuk ke kamar. Kamarnya cukup lah. Tidak terlalu besar atau kecil. Ada dua kasur twin yang bisa saya tempati berempat dengan kakak saya dan anak-anak. Jendela kamar berbentuk melengkung menangkap pemandangan kota yang cantik.

View bukit tinggi dari jendela di dalam kamar dan di luar kamar

Dari sore ke malam kami gak banyak beraktivitas cuma explore sekeliling hotel. Ada tempat fitness. Ada kolam renang. Sayangnya untuk tempat bermain anak hanya ada satu ayunan jadul. Jelas lebih lengkap play ground di Nuansa Maninjau.

Untuk makan malam kami menikmati nasi padang di seputaran jam gadang dan martabak mesir yang ternyata rasanya kari dan rempah-rempah banget, gak seperti martabak telur di Jakarta.

Paginya setelah sarapan roti saja, anak-anak minta berenang. Sayangnya kolam renang anaknya hanya di kotak kecil tempat pancuran itu saja. Si kakak sempat protes karena kolamnya yang terlalu pendek dan sempit. Setelah puas berenang kami ke kamar ganti. Ekspektasi saya untuk hotel sekelas Novotel sudah ada shampoo atau sabun di dalam ruang bilas. Ternyata tidak ada. Ya padahal saya gak bawa dari kamar. Ya sudah deh terpaksa bilas biasa aja dengan air yang juga dingin gak hangat.

Kolam renang di belakang hotel

Setelah mandi dan keramas di kamar, kami lanjut cari brunch. Breakfast yang kesiangan. Mau mencicip nasi kapau di pasar yang katanya enak sampe sering masuk di TV.

Kami jalan ke arah pasar Bukittinggi. Jam gadang sendiri dalam proses renovasi. Jadi masih dipagar seng keliling.

Setelah tanya-tanya beberapa kali ke pedagang pasar dimana letak penjual nasi kapau, sampailah kita di los Lambuang. Mungkin maksudnya Los lambung ya tempat kita mengisi lambung atau perut *sotoy*. Isinya beragam kios-kios makan yang kebanyakan adalah nasi kapau.

Setelah clingak clinguk sampailah di kedai Uni Lis yang katanya sudah ada sejak tahun 1970.

Menu yang saya pilih ayam lado mudo. Enak sambelnya seger tapi gak sampe bikin kepedesan ekstrim. Ada sayur yang bentuknya batang panjang2 kayak genjer. Ada rendang singkong yang diiris kotak-kotak yang keras tapi kriuk. Gulai kol dan seiris dendeng kering yang buat saya terlalu garing dan masam sampai hilang rasa rasa sapinya.

Satu porsi nasi lauk cuma rp 25.000. Jeruk anget 10.000. kerupuk kulit atau emping rp 5000.

Selanjutnya menikmati kota Bukittingi dengan naik bendi.

Berbeda dengan andong / delman di Jakarta dan Jawa yang besar, bendi di sini kecil saja. Dengan kursi berbentuk U kecil terbalik agak ragu juga apakah cukup untuk kami naiki bertiga. Saat saya menginjak injakan kaki untuk naik, terasa bendinya oleng ke belakang. Mau bergerak-gerak tukar duduk dengan anak sayapun gak berani. Takut goyang. Yha namanya naik kuda pasti goyang yaa. Makanya ada lagu jaran goyang. Jaran = kuda.

Dengan 50.000 ternyata bendi hanya berputar dari mulai jam gadang, novotel, jalan ahmad karim dan balik ke jam gadang lagi. Rutenya lebih pendek dari rute saya jalan kaki di seputaran Bukittinggi. Untuk rute yang lebih jauh sampai Goa Jepang dan kampung Cina tarifnya antara 75.000-100.000.

Saat turun saya langsung loncat saja ke jalan. Gak mau nginjak injakan bendinya. Sadar diri sama berat badan 😁

Oke. Jadi itu sekilas tentang pengalaman menginap di Novotel. Untuk perbandingan dengan Nuansa Maninjau versi saya:

  • Desain : sama-sama kece dengan konsepnya masing-masing
  • Layanan : unggul novotel
  • Kolam renang : unggul nuansa
  • Playground : unggul nuansa
  • Kamar : walau sama-sama jadul novotel lebih terawat dan furniturenya mungkin di upgrade regularly.
  • Makanan saya gak cicip di novotel jd no comment.

Saya juga survey anak-anak.

Kakak : bagusan di Nuansa, bunda. Aku bisa lari-larian, kolamnya bagus, keluar kamar pemandangannya cantik. Disini aku kayak terkurung.

Adik : aku suka novotel.. ada wifinyaaaa.

Yhaaa…capee deeh. Kalo gitu mah di rumah aja. Wifi kenceeeng.

6 respons untuk ‘Menginap di Hotel Novotel Bukittinggi

  1. beberapa kali kantor bikin acara di bukittinggi mulai dari jaman namanya masih the hills sampe balik lagi jadi novotel belum pernah beruntung nginep disini karena full terus wkwkw.. Nuansanya klasik banget, berasa lagi di maroko bun 🙂
    pernah denger katanya bendi di bukittinggi muahal banget, rupanya bener yak..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s