Media Sosial Apa yang Kamu Punya?

Berdasarkan definisi di Wikipedia, media sosial berarti : sebuah media daring (online), dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.


Mungkin teman-teman yang sejadul saya masih merasakan jaman sosmed belum ngehitz. Sudah cukup bahagia nongkrong di warnet jam-jaman sekedar chat sama strangers via mIRC atau sekedar buka postingan gambar via email dari yahoo groups.

Kalau mIRC kebanyakan ajang chit chat dengan orang yang tidak dikenal melalui suatu forum. Ada juga Yahoo Messenger (YM), dipakai untuk chat dengan teman sesama pemilik akun yahoo. Layanan YM sendiri sudah ditutup Juli 2018 kemarin karena sudah kalah pamor dengan Messenger (yang terintegrasi dengan Facebook) atau Blackberry Messenger (BBM – yang juga menjelang kolaps) dan Whatsapp (WA)

Friendster (FS) dimulai tahun 2002. Akun jaringan pertemanan yang bisa kita isi dengan foto-foto, cerita (melalui blog friendster), dan testimoni dari teman-teman kita mengenai kita. 

Uniknya FS karena bisa jadi ajang kepo status dan kegiatan gebetan atau orang yang kita sirikin melalui fitur recent update. Disini bisa keliatan siapa yang baru dia add, foto apa yang dia pajang, siapa feature friend dia. Di FS bisa masang 1-6 feature friend. Jadi kalau gebetanmu tiba2 cuma masang 1 feature friend lawan jenisnya, siap-siap aja patah hati.

Sebelnya FS itu karena dia punya fitur who’s viewed me. Jadi kalau kita stalking, oo kamu ketauaan.

FS sempat bangkrut dan tahun 2011 dirubah menjadi aplikasi game sampai akhirnya ditutup di tahun 2015.

Kenang-kenangan soal FS buat saya dan suami karena dulu kami temenan dan suka cela-celaan. Untung masih sempat capture beberapa percakapannya sebelum akhirnya FS bubar. Salah satu comment saya untuk dia saat majang foto sama pacarnya, “siapa wanita khilaf itu.”. Jadilah sampai sekarang saya suka dicelain “ternyata kamu ya wanita khilaf itu.” Yhaaa…

Saat lagi demen-demennya main Friendster, suatu hari di chat temen via YM, “Eh bikin Facebook (FB) aja. Lebih bagus dari FS.” Itu kalau gak salah sekitar tahun 2008-an. Saya buat sih akunnya tapi gak ngerti harus diapain. Fb juga punya fitur poke yang saya gak ngerti sampe sekarang apa faedahnya. Tapi lama-lama sesudah teman makin banyak, jadilah kecanduan posting di FB. Setiaap hari posting gak penting. Sampe saya sering dapet notifikasi dari FB. “Congratulation, you’ve posted .. hundreds days in a row” Mungkin teman saya yang ngajak saya bikin akun sampe nyesel. Karena tiap buka FB isi timeline-nya saya semua 😁

Makanya sekarang rada males nambah pertemanan. Bukan apa-apa, kasian aja habis add saya eh tiap hari di timeline muka saya. 

Yang lebih gengges dari postingan muka saya di FB adalah postingan sotoy ahli politik dadakan. Tapi FB menyediakan solusi dalam bentuk unfollow. Jadi kita tetep temanan tapi aku gak perlu liat status apapun dari kamu. Yhaa kayak cinta ditolak lah. Tetep teman tapi jangan nongol di depan mukaku yaa.. 😁

Karena dulu saya hidup di kota kecil, jomblo, akses internet sepuasnya di kamar, jadilah ya kurang kerjaan dan senggang. Makanya saya tambah lagi install aplikasi Plurk. Lagi-lagi atas hasutan teman. Plurk biasanya berisi status kita yang disajikan dalam timeline. Karakter huruf dibatasi seperti twitter. Dia punya tingkatan level yang disebut karma. Makin banyak karmanya makin banyak feature yang kita dapat. Karma diperoleh dari banyaknya postingan, comment ke orang lain, ajakan bergabung, dsb. Seandainya saja di FB ada sistem poin, mungkin saya udah level diamond (yhaaa kali MLM). Plurk saya sekarang entah kemana. Lupa password-nya juga. (I should have book consist of all my passwords).

Suatu hari yang lain, saat meeting, teman saya yang lain lagi mengajak install Twitter. Ini yaa..lagi meeting malah ngobrol dan bahkan install twitter!! Katanya seru bisa  follow selebriti mancanegara dan reply-in mereka. Jadi misal Paris Hilton nge-twit (istilah nulis status untuk twitter) “morning, sunshine.” Temen saya reply “mbak mandi dulu gih.”

Yaelaa tujuan hidup yang maha tidak penting : memberi comment di twit Paris Hilton 😁. Sungguh kegiatan-kegiatan unfaedah dari jomblo-jomblo di kantor kami jaman dahulu kala. Bedanya Twitter dari FS, FB dan Plurk itu kalau yang ketiga hubungannya harus add friend dan diterima ajakan pertemannya. Kalau twitter bisa searah. Kita follow mereka tanpa mereka perlu follow balik akun kita, kita sudah bisa akses status, kasih reply, love atau retweet. Makin banyak follower-nya, makin jadilah mereka selebtwit, selebriti twitter. 

Twitter dibatasi karakter huruf, tapi disitulah serunya. Gimana bikin cuitan yang bagus, informatif, menarik perhatian banyak orang, dengan keterbatasan karakter. Entah karena orang-orang yang saya follow kocak semua ya, tapi sumpah twitter itu lucunya tingkat dewa. Misal di kasus Setyo Novanto nabrak tiang listrik, di facebook para pakar politik dadakan sibuk bahas konspirasi, warga twitter dengan garing bahas tiang listrik dengan tagar #savetianglistrik.

Saking out of the box  nya twitter, kadang postingan mereka juga dicopy paste untuk status di instagram atau FB. Jadi istilahnya “suatu joke muncul di twitter hari ini, di capture di instagram minggu depan, dan di share di facebook bulan berikutnya” untuk menggambarkan ke-uptodate-an twitter. 

Saya buat akun Instagram (IG) dengan tujuan mulia : biar bisa follow akun lambe turah! Ya ampuun 😁😁. Waktu itu lagi ngehits kasus Mario Teguh yang dan anak yang tidak diakuinya Kiswinar. Dan ternyata akun sejenis Lambeturah yang berisi gosip (yang kebanyakan akhirnya bener) banyak banget. Biar adil mari kita follow semua 😁. Postingan saya 0. Postingan pertama saya karena teman saya yang beauty  blogger mau kasih give away dengan syarat repost fotonya. Itupun saya japri dia “eh gimana caranya repost?” Pokoknya masih nubie dan lugu di dunia per-IG-an. Akhirnya bisa posting perdana dan tidak menang! Yaela..postingan pertama di sekitar 2016 akhir atau 2017 awal. Sekarang? Jangan ditanya 😂 udah 425!! 

Soal tipe akun yang saya follow juga berubah-ubah. Awal-awal lambe-lambean yang isinya gosip dan ghibah. Issh.. dan karena saya sudah semakin insyaf (haissh kibas rambut), saya ubah orientasi follow emak-emak yang rumahnya rapi dan kece badai. Karena waktu itu baru pindah rumah dan pengen dapet ide dari mereka. Berhasilkah saya mengikuti jejak mereka? Nggak. Yang ada saya unfollow mereka daripada kesel liat rumah sendiri berantakan vs rumah mereka rapijali.. wkwkwk. Terus ada masa follow semua akun jago masak. Ya akhirnya nasibnya sama kayak akun rumah. Males cuma mupeng liat masakan tapi gak bisa bikin, ya udah lah ya bye bye aja. 

Sama seperti akun twitter yang menandakan eksistensi dengan jumlah follower. IG juga gitu. Makin banyak follower jadilah mereka selebgram, selebriti instagram. Bisa kaya raya dengan endorse macam-macam produk. Bedanya dengan twitter, warga twitter selalu mentertawakan diri dengan menyebut soban misqueen-ku, sementara IG terasa pencitraaan dengan postingan  foto super cakep, super artistik, super wah, super tajir. 

Diluar semua akun-akun itu saya juga punya akun Path (yang gak pernah diiisi dan udah tewas juga aplikasinya), Youtube, Pinterest, Smule (jangan tanya password-nya ya. Karena dijamin lupa). Juga punya WordPress, Blogspot (sebagian lupa password-nya juga), LINE, BBM, whatsapp.

Jadi, media sosial apa yang kamu punya? 
Cerita ini bagian dari #BPN30daychallenge2018.

Iklan

Satu respons untuk “Media Sosial Apa yang Kamu Punya?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s