Kembali ke Bukittinggi – Day 2

Setelah menghabiskan hari pertama di seputaran Bukittinggi. Hari ini siapin stamina untuk rute yang lebih jauh. Sarapan pagi di hotel kemudian cuss menuju Bukit Cinangkiak di ujung danau Singkarak.  Jaraknya di google maps sekitar 60 km. Pemandangan di sepanjang Danau Singkarak bagus banget. Birunya langit, birunya danau dan hijaunya perbukitan benar-benar paduan yang cantik.

Sampai di Cinangkiak sendiri masih jam 10-an. Beberapa tempat pepotoan yang ngehitz seperti sepedaan di atas tali, jembatan gantung, flying fox belum dibuka. Ya kayak saya berani aja foto disana. Lha wong di pintu masuk saja sudah ditulisi “semua harga tiket sudah termasuk asuransi jiwa” hiiiiy…maapken kalau cuma demi feed Instagram saya naik-naik gituan 🙂

Pemandangannya memang bagus sekali dari atas bukit yang tinggi itu. Disitu ada restoran berbentuk kapal besar dengan view Danau Singkarak. Selain permainan eh atau perpotoan Uji nyali yang saya sudah sebut sebelumnya, juga ada saung-saung yang digembok dan dirantai kalau kita belum booking. Euggh. Ada kincir raksasa yang belum dibuka. Ada rangkaian kereta-keretaan yang belum terpasang. Perosotan yang belum jadi. Intinya sih obyek wisata ini belum selesai sepenuhnya. O iya water boom nya sudah buka, jadi anak-anak pasti suka main disana.

Tapi yang perlu di kritik sih kamar mandinya. Untuk konsep obyek wisata extravaganza seperti ini (ya iyalah kalau dilihat dari ada bianglala-bianglalaan :)), kamar mandinya tradisional sekali dan bisa dibilang untuk tempat wisata baru kok udah kotor ya. Slot penutup kamar mandinya dari kayu, jadi inget bapak saya suka bikin segala sesuatu sendiri yang sifatnya darurat. Darurat tapi gak di update-update. Jadilah darurat permanen. Selain itu sampahnya, Jadi posisi restoran kapalnya itu ada yang melayang di atas bukit. Nah kalau kita melongok ke bawah ada deh tuh sampah. Maafkan gak saya tampilkan disini fotonya. Cukup wajah saya aja yang merusak pemandangan jangan sampahnya 🙂

20180716_162024 (002)

Gak berlama-lama disini, kami langsung ke arah Padang Panjang untuk berburu Sate Mak Syukur di Jalan Sutan Syahrir. Sampe di sate mak Syukur jam 12.30. Dan di parkirannya sudah ada tulisan “SATE HABIS” huawaaaa…. Sesudah kejadian kehabisan itik lado mudo di hari pertama, masak terulang lagi. Ya sudah lah ya, ke Warung Pak Datuk saja di seberangnya, daaan gak dapet parkir…isssh. Kesel.

Akhirnya ya udah sambil mengisi waktu dan mencari restoran lain,  kita ke Air Terjun Lembah Anai saja dulu. Jaraknya cuma 7 km, cuma kok ya gak sampai sampai karena macet cet…hiks… Di sepanjang jalan menuju Air Terjun Lembah Anai banyak monyet-monyet. Ya ampun, di rumah monyet, disini monyet, dimana mana ketemu monyet…yee nyanyi lagi deh. O iya sampahnya juga gak kira-kira. Dan di sepanjang jalan kayaknya banyak banget kolam renang-kolam renang. Kata teman saya itu airnya alami dari mata air langsung, jadi tiketnya murah banget. Akhirnya sampai juga di air terjunnya yang ternyata ya begitu aja deh 🙂 Gak bisa turun, karena dia hanya di pinggir jalan yang pas hanya 2 jalur, 1 lajur (eh apa kebalik ya), gak bisa parkir. Kembali ketemu macet lagi dan sampai ke Sate Mak Syukur lagi yang sudah buka kembali. Dan ternyata rasanya B aja :). Tetap the best adalah sate danguang danguang saat saya ke Payakumbuh waktu itu.

PhotoGrid_1531734208368

Setelah perut kenyang, kami berniat ke PDIKM (Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau). Jaraknya cuma 850 meter dari Sate Mak Syukur, dan dodolnya kami kebablasan sehingga harus menikmati kemacetan arah Lembah Anai kembali. Lambaikan tangan ke monkey-monkey di jalanan. Di museum ini terdapat berbagai macam informasi dan koleksi mengenai kebudayaan Minangkabau.

Tiket masuk untuk dewasa hanya Rp 5000, anak-anak Rp 3000 dan Parkir roda 4 Rp 4000. Di depan gerbang langsung tampak di ujungnya terdapat rumah gadang yang berisi berbagai koleksi dan dokumentasi kebudayaan Minangkabau. Sebelum sampai kesana terdapat replika bunga Raflesia Arnoldi di tengah kolam.  Selain belajar tentang budaya Minangkabau dari masa ke masa, kita juga bisa berfoto-foto ria. Selain pemandangan yang cantik, bangunan-bangunan yang eksotik, tempat ini juga salah satu obyek wisata terbersih yang pernah saya jumpai sepanjang perjalanan saya ke Sumbar. Kita juga bisa menyewa baju daerah Minangkabau untuk dipakai berfoto-foto di sepanjang area PDIKM.

PhotoGrid_1531800143208

mohon maaf karena sudah bongkar-bongkar arsip, ternyata tidak ada foto PDIKM yang tanpa muka saya 🙂

Di seputar lingkungan PDIKM juga ada Mifan, Minang Fantasi, yang berisi wahana permainan di dalam water park maupun di dry park nya. Saya skip, karena anak-anak kalau sudah main air pasti tidak bisa selesai-selesai 🙂 Jadi kalau memang ke Mifan tujuannya, bisa menginap di cottage-nya dan seharian main di sana.

Selesai dari PDIKM, kami lanjut ke arah pulang ke hotel. Di itinerary sebetulnya dijadwalkan mampir ke Pandai Sikek, tetapi driver saya sepertinya sudah tepar, jadilah kami hanya mampir di Bika Si Mariana di Koto Baru.

Bika terbuat dari bahan-bahan seperti tepung beras, santan dan gula. Dipanggang di wajan kecil yang terbuat dari tanah liat yang sudah dilapisi daun pisang. Enaknya dimakan panas-panas. Agak mirip dengan wingko babat kalau sudah dingin, hanya tekstur wingko padat, tekstur bika lebih kepyur (opo iki istilahe). Warungnya sederhana sekali, di terasnya ada meja panjang, berjajar beragam pilihan gorengan dan kue terbungkus daun pisang. Kita bisa lihat proses pembuatannya dari luar.

Selain Bika Si Mariana, di sepanjang jalan itu juga berjejer merk-merk Bika yang lain. Beberapa ditambahkan variasi seperti bika pisang dan sebagainya. Mungkin next trip kita coba di warung yang lain.

PhotoGrid_1531801379263

Dan saya baru tahu ternyata ada lagu berjudul Bika Si Mariana  🙂

Artis : Lily Syarief

Judul : Bika Si Mariana

Ciptaan : Nuskan Syarief

==========================
Bunyi kureta dari Padang
Baranti tantang Kotobaru -2x
Jikok dagang lai nak pulang
Bika panggang bali daulu -2x

Ikolah bika si Mariana
Kok rasonyo yo sabana kamek -2x
Cakak abih silek takana
Usah manyasa kok ndak mandapek -2x

Reff:

Jikok dicubo, batambuah juo
Lamak rasonyo dimakan baduo

Bika oi bika
Balilah bika
Lamak bikanyo si Mariana
Indak dibali takana-kana

Oke finally sampai di hotel lagi. Dan tetep habis mandi keliling ke Jam Gadang lagi 🙂 Selain hunting oleh-oleh juga cari makanan. Malam ini kami makan yang sederhana saja Nasi Goreng 15,000 an dan KFC untuk bocil. Antrian KFC nya alamak…antrian terpanjang yang pernah saya jalani. Kalau gak demi anak yang sudah mupeng liat hadiah Chaki Meal gak akan mau saya antri-antri begini  🙂

Oke istirahat lanjut besok lagi, last day in Bukittinggi.

Iklan

3 respons untuk ‘Kembali ke Bukittinggi – Day 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s