Kembali ke Bukittinggi – Day 1

Ini adalah kunjungan ketiga saya ke Bukittinggi. Pertama waktu awal-awal kerja. Naik travel pulang kerja dari Duri melewati medan yang berkelok-kelok. (Lha ke Sumbar kok lewat Medan?). Untuk antisipasi sudah siapkan antimo dan tidur di travel. Eeh temen saya pake bangunin saya di kelok 9 ceritanya mau nunjukkin kelok yang cantik. Ya tapi gak perlu juga sih kan malem-malem. Hasilnya bukan ngeliat pemandangan malah muntah di jalan. Untung di travel selalu sedia kantong kresek.

Drama belum selesai disitu. Sampe di penginapannya dini hari.  Dan penginapannya belum buka donk. Kalau kita kira penginapan buka 24 jam, ternyata di situ nggak. Ya memang sih kami cuma menginap di penginapan biasa di Ambun Suri, kalau di search sekarang rate nya juga cuma sekitar Rp 300,000 an. Tapi lokasi nya betul-betul dekat ke Jam Gadang.

Dini hari di Bukittinggi itu dingin bangetnget. Agar gak kedinginan kami masuk ke dalam bilik ATM di depan hotelnya…daaan matiin AC disitu…haha…bandel yaa… Bilik ATM yang kecil dijejali 4 turis lokal nan kumal jadilah hangat. Dan akhirnya hotelpun buka. Selama 2 malam disana, selain ke obyek obyek wisata di sekitar bukit tinggi seperti Ngarai Sihanouk, Jam Gadang, Gua Jepang, Kebun Binatang dan Benteng Fort de Kock, kami juga ke Danau Maninjau dengan bus, dan ke Harau dengan menyewa motor. Super irit sekali ya. Intinya berkesan banget. Setelah hidup di Duri yang panas dan gersang, tiba-tiba ke tempat yang cantik, sejuk dan bersih.

Kali kedua disana saya sudah kerja di Pekanbaru. Kakak saya datang dari Jakarta, ke Jambi dan mampir ke Riau. Bingung kan di Pekanbaru di masa lalu mau diajak kemana. Akhirnya saya ajak ke Bukittinggi. Sudah gak naik travel lagi, tapi naik mobil teman. Sudah kayaan dikit (maksudnya sudah punya teman yang kayaan dikit…hihi). Menginapnya tetap di hotel yang sama. Jaman dulu belum ada booking.com atau agoda seperti sekarang. Hotel yang saya tahu ya cuma Ambun Suri dan Novotel, yang di saat itu masih mahal buat saya. Rute perjalanannya mirip-mirip rute diatas.

Ketiga, sudah bawa buntut 2 orang. Walau sebelumnya saya sudah jalan-jalan ke Sumbar juga dengan kedua anak saya, tetapi rutenya bukan ke Bukittinggi.

Perjalanan sebelumnya saya tulis disini :

https://curcolbudol.com/2017/12/11/berlabuh-di-payakumbuh/

https://curcolbudol.com/2017/12/29/wisata-sumbar-bag-2-puncak-pato-istana-pagaruyung-desa-terindah-di-dunia/

https://curcolbudol.com/2018/01/15/wisata-sumbar-bagian-3/

Mumpung bocils masil libur, jadi saya ajak menginap 2 malam di Bukittinggi. Berbekal itinerary yang sudah saya susun sejak January dan gak jadi-jadi pergi juga. Akhirnya di bulan Juli terlaksana juga jalan-jalan ke sana :

itinerary Bukittinggi

Fersi excelnya disini, silakan kalau mau diganti-ganti. Ada juga capture map dari tempat wisata diatas :  itinerary bukittinggi

Rutenya lumayan detail, karena mamak irit gak mau rugi jadi harus banyak obyek wisata yang bisa didatangi, tetapi juga tetap santai karena membawa anak-anak, jadi harus pas jam istirahat dan makannya (yee kalo ini sih mempertimbangkan perut emaknya yang laperan)

Untuk menginap saya mencari di Booking.com. Kebetulan saya kesana ber-6 dengan 2 anak, kakak saya, mbak asisten dan driver. Hotel Novotel mungkin masih reasonable harganya untuk fasilitas dan lokasi yang OK. Tapi jangan harap bisa dapet kamar di weekend. Saya curiga orang Riau ngadem disini semua saat weekend. Rocky Hotel masih ada kamar dengan harga diatas Novotel. Tapi secara saya bawa rombongan sirkus, dipikir-pikir bisa bangkrut juga booked 3 kamar.. haha emak-emak perhitungan. Jadilah saya coba-coba pilih guest house yang berjarak dekat dari Jam Gadang. Ketemulah guest house 3 kamar dengan score cukup bagus di booking.com. Kebetulan foto-fotonya dari dalam semua, ya seperti rumah jadul lah.

Saya tanya anak-anak saya dulu mau gak liburan tapi kita nginep di rumah biasa. Pertanyaan si kakak, “air hangatnya gimana Bunda?” Nanti bisa masak. Karena disana kebetulan tersedia dapur dan kompor. Mungkin si kakak ingat waktu kami menginap di Harau dimana air panas rusak padahal dinginnya merinding disko. Saya booked. Eh baru kepikir cek lokasi via google maps. Tuing tuing, ternyata lokasi dan tampak depan rumahnya kok agak ngeri ya. Akhirnya saya cancel. Cuma cancel di H-1 itu kemungkinan uang tidak kembali.

Untungnya booking,com menyediakan fitur request to cancel without cancellation fee dan permohonan saya di setujui. Thanks to owner juga yang menyetujui permintaan itu.

Akhirnya saya bisa mendapatkan Famili Room di Starli Hotel. Kamarnya cukup besar, dilengkapi 2 tempat tidur queen, air panas dan AC (banyak penginapan disini tidak menyediakan AC karena udara Bukittinggi yang sejuk) dengan harga 1.6juta untuk 2 malam. Sebetulnya tidak terlalu beda jauh dengan 1 kamar di Novotel, hanya saya gak yakin di hotel berbintang bisa uplek-uplekan 3 dewasa dan 2 anak-anak.  Driver saya saya inapkan di de Kock persis di depan Starli Hotel. Disana menyediakan kamar start from Rp 100,000 untuk model dormitory.

Walau penginapannya biasa-biasa saja, untuk kamar Familinya lumayan sekali. Tempat tidur besar 2 buah, di depannya masih lapang kalau mau bawa kasur lipat masih cukup. Bersih dan bangunan cukup baru. Saluran TV lumayan , stasiun yang memutar film-film nya komplet. Akses Wi-fi kencang. Air panas cukup buat kami mandi ber-5. AC adem. Peralatan mandi disediakan mulai dari handuk, sikat gigi odol, sabun dan shampoo. Pemanas air, kopi teh gula juga ada di tiap kamar.

20180630_140804_resized (002)

Buat si mbak yang masakin makanan untuk anak saya yang bungsu dia senang karena bisa pakai dapurnya untuk menitip bahan makanan di kulkas dan cuci piring. Walau dapurnya masih jadul dan tidak direnov seperti kamar-kamarnya.

Sarapannya minimalis.

Hari pertama menunya : Cereal 2 jenis, Nasi Goreng, Lontong Sayur buncis, Bubur Sumsum, Roti. selai dan alat pemanggang. Minum kopi, teh, jus.

Hari kedua menunya : Cereal 2 jenis, Nasi kuning, Lontong daun paku, Bubur kacang hijau, Roti. selai dan alat pemanggang. Minum kopi, teh, jus

Tanpa lauk sama sekali even telur. Tapi entah karena memang pintar masak, atau saya laperan disana ya, kok semua menunya enak di lidah.

Untuk yang ingin menginap disana, ini alamatnya :

Jalan Teuku Umar, Benteng Pasar Atas, Benteng Ps. Atas, Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat 26113. Telp (0752) 21492

Untuk Penginapan de Kock nya sendiri kayaknya pas untuk turis-turis backpacker. Di depan cafe yang kayaknya menyediakan minuman beer dan sejenisnya. (Agak surprise di tempat seperti Bukit Tinggi bisa ada bir2an seperti ini) . Ada tempat untuk live music yang berisiknya sampai ke kamar hotel saya. Agak kesal juga karena saya di hubungi booking.com yang menyatakan saya belum check in disana padahal saya sudah membayar tunai disana. Bukan apa-apa, saya khawatir kalau karti kredit saya sebagai jaminan digesek karena dianggap tdk muncul dan terkena cancellation fee.

Karena saya check in dulu agar anak-anak bisa leyeh-leyeh sejenak, kami baru tiba di Itiak Lado Mudo sekitar jam 1.30. Daan… itiaknya sudah habis…huhu. Yang ada tinggal Ayam Lado Mudo dan Cincang. Ya okelah ya secara sudah lapar berat. Ayamnya agak alot buat saya, mungkin karena ayam kampung. Cincangnya isinya tinggal koyor-koyor, mungkin karena sudah siang dan kehabisan. Lado mudonya nyuss memang enak, gak terlalu pedas sehingga bikin nagih.

20180630_143600_resized (002)

Ini lokasinya : Jl. Binuang No.41, Kayu Kubu, Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat 26115, Telp  (0752) 35574.

Jika ingin dapat bebeknya mungkin harus datang sebelum jam 12, atau pesan yang frozen untuk dibawa pulang. Setuju dengan salah satu ulasan di google, ibu pelayannya jutek banget. Jam tutup jam 4, tetapi jam 3 mukanya sudah masam dan beres-beres. Sementara kami memang lama karena menunggu si kecil makan. Bapaknya ramah, termasuk saat saya request menu telur ceplok yang mereka tidak punya (mereka cuma jual menu lado mudo dan cincang) dan minta air panas untuk mengisi thermos si kecil.

Dari rumah makan itu dekat banget ke Ngarai Sihanouk. Sekarang sudah dibuat turap dan rumah-rumahan untuk berteduh (eh apa rumah-rumahannya milik warung-warung di sekitarnya ya?). Airnya sayang tidak bening, tapi coklat keruh. Biar begitu anak saya betah nyemplung disana dan gak mau mentas-mentas.

IMG-20180701-WA0019 (002)

Sesudah istirahat dan mandi sore, kami berniat ke Jam Gadang, icon-nya kota Bukittinggi. Tadinya mau naik mobil tapi ternyata jaraknya cuma 500 meter. Jadi daripada bingung macet dan cari parkir, mending jalan kaki saja. Mungkin karena saya kesana masih di liburan sekolah, atau memang manusia semakin banyak, kasian kelinci terdesak…yee jadi nyanyi deh. Orang-orang berjubelan di dekat jam gadang baik pedagang ataupun pengunjung. Sampah dimana-mana. Jadi susah sekali untuk ambil foto berlatar belakang Jam Gadang yang cantik. Disitu akhirnya cuma beli souvenir-souvenir kayak tempelan kulkas, kaus, gantungan kunci, dan squishy. What? Squishy? Bukannya dimana-mana ada. Ye gitu deh namanya juga bawa bocil. Tapi squishy yang dijual disini lebih murah memang dari di mall-mall di Pekanbaru. Walau sama-sama slow. Beugh, jadi tau deh istilah2 per-squishy-an.

20180630_175429_resized (002)

Sebelum magrib kami udah balik, karena kayaknya bau-baunya akan turun hujan. Malamnya cuma titip beli nasi sama driver saya. Dia beli di Warung sederhana dekat Jam Gadang. 2 ayam cabe, 2 rendang, 1 ayam bumbu dan 1 menu yg dia makan di sana, tidak sampai 90,000 rupiah. Murah dan enaaak. Kamipun bisa tidur dengan nyenyak untuk siap memulai trip esok hari.

 

Iklan

Satu respons untuk “Kembali ke Bukittinggi – Day 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s