Jalan-Jalan ke Siak

Libur Tahun Baru Imlek kemarin, saya dan bocils berencana pergi ke Siak. Targetnya sih ingin liat istana dan kelenteng saja. Terakhir saya kesana, tahun 2008 obyek wisata yang cukup lumayan untuk di foto-foto ada disana. Karena Imlek jatuh di hari Jumat harus diperhatikan jam buka tutup Istana, karena ada istirahat untuk shalat Jumat.

Senin – Kamis, Sabtu, Minggu : Jam 09.00 – 16.00

Jumat : Jam 09.00 – 11.00, Jam 13.45 – 16.00

Karena saya tipe manusia pagi yang gak suka berkeliaran di malam hari…jiyaah emang batman, jadilah kami memutuskan harus tiba di istana pagi-pagi. Jadilah cuzz berangkat jam 7.30 dari Rumbai. Perjalanan ditempuh dalam tempo 8 menit 8 detik (ya kali salep 88, eitss ketauan jadulnya), dalam waktu 2.5 jam, itu juga kita selow aja nyetirnya, anak-anak sempet jeda pipis di pinggir jalan, dan berhenti di jembatan untuk foto sejenak. Foto di atas jembatan Siak yang cantik itu sekarang sudah gak boleh. Jadilah cuma bisa  foto dari dalam mobil atau berhenti sebelum dan sesudah jembatan.

siak 3

siak 4

Sampai di istaha sekitar jam 10. Ternyata loket untuk beli karcisnya terletak di seberang jalan raya di depan istana. Dewasa Rp 3000, Anak-anak Rp 2000. Murah banget ya? saya lupa, 10 tahun yll kira-kira masuk sini bayar berapa ya. Dari tiket itulah saya baru tahu kalau nama Istana Siak itu adalah Istana Asserayah Hasyimiah.

Masuk di gerbang istana di sapa oleh penjaganya “Ibu gak mau masuk jam 13.45 saja? Sayang cuma 1 jam nanti di istana.” Tapi ya saya pikir kayaknya di dalam gak akan lama-lama juga sih. Jadi kami tetap ambil kloter pertama.

Sebelum masuk ke istana, sandal di copot dulu. 10 tahun yang lalu, penitipan sandal ini bayar Rp 500 lho. Sekarang sudah free. Di dalam istana masih sama kayaknya barang-barangnya. Ada foto raja-raja dan pembesar kerajaan. Ada barang-barang peninggalan raja, seperti keramik, kursi, meriam, peralatan makan, dan lainnya.

siak 5

Istana terdiri dari 2 lantai yang dihubungkan dengan 2 anak tangga melingkar. Yang satu untuk naik, satunya untuk turun.

Yang khas adalah kotak musik antik Komet yang konon hanya ada 2 di dunia, yaitu di Jerman dan di Siak. Karena usianya yang sudah tua, alat musik ini hanya diputar saat ada tamu penting. Kami beruntung saat sedang berkeliling diinformasikan oleh petugasnya bahwa alat musik tersebut akan diputar…wewww kita termasuk tamu penting donk…hihi… Dari alat yang diputar dengan cara diengkol manual itu, terdengar lagu klasik nan romantik. Kepingan musiknya sendiri semacam CD yang sangat besar. terbuat dari besi/baja diameter sekitar 90cm. Terdapat belasan CD yang katanya berisi lagu-lagu klasik.

Selesai berkeliling di dalam bangunan istana, kami kebelakang. Ada sumur tua yang bisa ditimba. Airnya dangkal tapi keruh.

siak 7

Ada bangunan kecil berbentuk seperti kapal, yang digunakan sebagai tahanan sementara di jaman dahulu

siak 6

Di depan bangunan mirip kapal itu, ada bangunan rumah panggung yang diisi dengan atraksi budaya, kayak tari melayu, orkes dan lagu-lagu melayu. Di dalam rumah panggung ada pelaminan adat melayu. Kita bisa berfoto bersama dengan baju-baju daerah yang sudah disiapkan disana.

siak 17

 

Selesai dari istana kami memutuskan untuk mencari makan siang. Kami mencoba mencicip RM Wan Syafariah, jaraknya hanya di seberang istana. Persis di bagian ujung bangunan rumah-rumah ber cat merah dan hijau di jalan ke arah kelenteng Hock Siu Kiong.  Karena sebelumnya parkir di alun-alun depan istana, kita pikir pindah parkir ajalah ke sebelah RM yang lebih adem, walau jarak cuma sepelemperan batu. Tapi #EmakIrit lupa, kalo sering pindah-pindah begini jadi bayar parkir lagi…wkwkkw…

siak 8
RM Wan Syafariah

 

Makanan khasnya kayaknya udang galah ya. Juga ada gulai siput, sambal belacan dan sambal terung. Dan saya tetep makan yang standard. Rendang 🙂 Rendangnya agak keras. Gulai udangnya juga so so, agak kurang segar kayaknya. Ikan bakar nya lumayan walau ya sama juga sama warung lainnya. Yang paling enak ya es jeruk, mak nyuss… karena disini panas banget :). Untuk makan berlima dengan 1 piring gulai udang, 2 rendang, 2 ikan bakar, 3 es jeruk dan 2 es teh manis, kami cukup menghabiskan Rp 160.000

Dari sana kami menuju Kelenteng Hock Siu Kiong. Tinggal jalan 300meteran. Tapi karena mamak pemalas dan alasan bawa 2 bocils jadilah naik mobil dan bayar karcis parkir lagi…haha emak-emak perhitungan. siak 12

Kelentengnya masih sama, cuma lebih bagus aja. Tembok sebelah kanan dulu belum dilukis, sekarang sudah. Dan ada pagar besi yang tinggi. Di deretan kelenteng terdapat deretan rumah-rumah kayu yang dicat warna merah dan hijau, serta lampion-lampion yang digantung karena memang saat itu hari imlek. Suasananya mirip di kota-kota pecinan pada umumnya.

siak 11

Di depan kelenteng terdapat taman kota yang cantik.  Taman tersebut adalah bagian dari proyek Siak Waterfront City dimana sungai Siak di turap untuk menahan abrasi pinggir sungai. Dan sekarang sudah berwujud kawasan wisata yang terintegrasi dengan istana, kelenteng, daerah pecinan, taman kota, alun-alun, pelabuhan, yang semuanya tertata rapi, bersih dan cantik sekali.

Di taman depan kelenteng berjajar abang-abang menyewakan mainan anak-anak. Anak saya tertarik bermain otopet. Sewanya Rp 10.000/ 15 menit. Murah ya? Ternyata ya nggak juga, karena anak-anak pasti minta main berkali-kali..haha. Masalah lainnya saat itu sekitar jam 1, jadi matahari tepat berada di atas kepala geser dikit, hihi…jadilah tuing-tuing pusing pala Barbie. Akhirnya dengan bujuk rayu bisa juga mengajak anak-anak berpindah ke alun-alun Maharatu Centre. Pindah parkir lagi? Pastinya. Ya tempatnya di seputaran situ juga, cuma mamak pemalas lebih milih bayar parkiran goceng lagi daripada jalan kaki. Daaan anak-anak kembali menemukan abang penyewa otopet yang lain disini…haha… Sambil menunggu anak-anak main otopet saya ngadem di bawah gazebo putih yang sangat instagrammable (tapi saya memilih jogrok drpd foto2 di tengah merekahnya matahari) di Tepian Bandar Sungai Jantan.

siak 22
Bermain otopet ditengah teriknya siak waterfront city

 

siak 23
Tugu di depan istana siak berisi kisah perjuangan Sutan Syarif Kasim II

 

Sesudah puas foto2 dan main otopet (eh ini mah anak2 belum puas, dibujuk paksa aja sama mamaknya pulang), kamipun bersiap pulang. Di sepanjang jalan banyak banget taman-taman kota, taman lalu lintas, tempat wisata kuliner di tepian siak, yang semuanya cantik, bersih dan rapi . Sampe WC umumnya pun CBR, apaan tuh CBR? Cantik Bersih Rapi…haha… Untuk 3 unsur ini, Pemda dan masyarakat sekitarnya saya acungi jempol. Walau ya, tetep aja masih ada pengunjung yang nyampah sembarangan. Seandainya saja udaranya sesejuk Payakumbuh, pasti bakal sering main disini…hihi…

siak 26
Lokasi obyek wisata tsaaah, yang kami datangi

 

Kalau main kesini siap-siap sekalian baju berenang karena ada juga Queen Star Water Park Siak. E tapi ya, cuma main otopet aja kita udah gosong begini, apalagi main air yaa 🙂

Kunjungan piknik murah meriah ini, ditutup dengan rayuan bocils minta belikan otopet… Yaa…gak jadi piknik murah deh deeek….:)

 

Update Sad News :

Ternyata 1 hari sesudah kita dari sini, terjadi kebakaran besar di Siak. Persis di lokasi kami foto-foto di wilayah Pecinannya. Untungnya tidak ada korban jiwa. Semoga rejeki para korban diganti berkah yang lebih besar dari Tuhan.

IMG_1518869624528 (002)

Iklan

3 respons untuk ‘Jalan-Jalan ke Siak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s