Wisata Sumbar Bagian 3

Hokeh sudah 1 bulan lebih sejak tulisan yang pertama tentang Sumbar, berikut ini : Hari 1 : Perjalanan Berangkat, Padang Mangateh, Kepalo Banda

Dan sudah 2 minggu lebih sejak tulisan yang kedua Hari 2 : Puncak Pato, Istana Pagaruyung, Desa Terindah di Dunia

Berasa kayak bikin skripsi ya, bab 1 sama bab 2 lamaaa banget jedanya 🙂

Hari ketiga sebetulnya hanya hanya mengulas tempat menginap kami dan perjalanan sebelum kembali ke Pekanbaru. Karena si KK akan ujian hari Senin-nya, jadi kami tidak berani singgah ke tempat yang jauh-jauh.

Review Echo Guest House

Terakhir kali saya ke Harau lebih dari 10 tahun yang lalu. Waktu itu belum banyak penginapan di sini. Tetapi Echo Guest House sudah ada sejak dulu kala. Jaman dulu saya gak nginep disana karena berasa mahal aja sih…hihi… Sekarang? Hmmm ya masih mahal juga sih…hihi.. ye dasar #EmakIrit

Kenapa namanya Echo, karena letaknya persis di depan lokasi dimana kalau kita berteriak akan ada suara gema eh gema apa gaung ya, a.k.a echo, akibat pantulan dari dinding-dinding batu di sekeliling tempat kita berteriak tadi. Jadi bukan echo = enak dalam bahasa jawa ya, tapi Echo, ho, ho, ho…

harau 3

Oke sebelum melebar kemana-mana, mari kita jembreng dulu harga penawarannya. Ini bisa jadi harga diskon ya, karena kita kesana rombongan. Tapi bisa jadi juga boleh ditawar, ya namanya juga harga penawaran, jadi boleh ditawar donk. Kalo harga pas, bilangnya harga pengepasan…paan sih garing banget.

harau 1

Karena di sana terdiri dari cottage yang berisi beberapa kamar dan muat beberapa orang, jadi gak terlalu mahal juga sih, berkisar antara 160,000 – 227,000 per orang.

Dari tempat parkir menuju penginapan harus menyeberangi jembatan dari sebuah sungai yang cukup lebar. Jadi siap-siap aja rempong kalau harus bawa bawaan segambreng. Eh ada sih mas-mas hotel yang membawa gerobak dorong membantu membawa naik barang-barang. Tapi tau sendiri barang saya udah kayak pindahan. Ada magic com, ada guling, ada bedcover. . Haha…

harau

Apakah dari jembatan itu sudah selesai? Tentu tidak, karena masih harus mendaki berkelok-kelok dan tinggi, tinggi sekali. Barulah kita sampai di penginapan. Denah penginapan diatas adalah seperti gambar berikut :

harau 2

Rumah Gadang Utamanya seperti ini.

harau 4

Kebetulan saya mendapat rumah gadang yang di sebelah kiri, yang lebih kecil. Dan menurut saya sih sangat tidak saya rekomendasikan. Yuk intip dalamnya.

harau 11

Taraaaa…ini bangunan rumah gadang di sebelah kiri. Terdiri dari 2 kamar dibawah dan 2 kamar diatas. Bangunannya jadul sekali. Lantainya peluran semen saja. Di terasnya ada meja dan kursi seadanya. Ada sampah plastik di teras dan lantai dalam kamar berasa ngeres. Unch..unch si mbak udah gatel mo nyapuin rumah dan teras, sayangnya kami gak bawa sapu…. ya kali piknik bawa sapu, emang mo terbang kayak nenek sihir.

Di sebelah kiri terdapat jurang (karena kami kan di bukit ya), yang isinya sampah yang super duper banyak. Saya sih sangsi kalau ini hanya keisengan tamu penginapan yang gak sengaja buang sampah. Kayaknya ini memang jadi tempat buang sampah.

harau 9

Ini bagian dalam kamarnya, terdapat 1 kasur besar dan 1 kasur kecil. Karena anak saya masih kecil, jadi bednya saya turunkan. Karena bangunan sudah lama, jadi tidak bisa juga berekspektasi kasur dan bantalnya empuk dan clean. Untungnya sih kami bawa guling dan bedcover sendiri.

Bangunannya disangga dengan tiang kayu. Lantai diatas juga kayu, dan plafond-plafondnya entah kenapa bukan dilapis triplek tetapi dilapis semacam tikar. Jadilah kalau orang-orang diatas wira-wiri agak heboh, maka deritan kayu akan terdengar berisik di kamar saya, dan serpihan tikar dan sawang akan rontok kebawah.

AC sih gak perlu ya, karena udara nya cukup adem. Gak dingin juga, hanya adem. Pastikan bawa obat anti serangga karena binatang yang menghampiri gak cuma nyamuk.

Dan sekarang ke kamar mandinya. Konsepnya semi terbuka, mungkin biar ceritanya back to nature, jadi sebagian ruang kamar mandi tidak beratap dan cuma diberi dinding sekitar 2 meter. Cuma ada masalah kalau kamu mau punya KM terbuka, kamu harus super duper rajin, karena sampah, air hujan dan binatang pasti akan mampir. Melihat tampak depannya sih sudah bisa ditebak kalau gak rajin-rajin amat kan. Jadi bukannya berkesan artistic dan alami tapi malah jadi spooky, kotor dan saya berasa takut ada binatang atau serangga nyelip disana aja. Batu-batu dibawah juga kan ya seharusnya batu-batu bulat yang halus dan berwarna putih. Bukan kerikil yang selain tajam di kaki, juga tampak kotor.

Ember yang disediakan agak bocor. Untungnya ya kita bawa ember dan gayung sendiri…haha..gak sia-sia pindahan rumah kan?

harau 8

Hal paling krusialnya adalah tidak ada air hangat. Saya bela-belain menuruni lembah menyeberangi sungai buat ketemu mas-mas resepsionis nanya si air panas. O iya disini gak ada telpon antar kamar, jadi kalau mas-mas guesthouse-nya gak ada di atas terpaksa kita harus turun gunung buat nanya. Dan kata si mas, di rumah yang kami tempati air panasnya rusak. Toweeeng…toweeeng…Kalau ini di Jakarta atau Pekanbaru yang cuacanya hangat membara sih gak papa ya, lha ini kan uadeem.

Jadi kalau pengen nginep disini, lebih baik pilih rumah nomer 3 dan 5. Bangunan sudah lebih baru, air panas hidup, ya walau kata temen saya, cuma suam-suam kuku aja sih. Malah kalau dipakai berturut-turut yang terakhir gak akan kebagian. Mungkin karena air panas di tangkinya sudah habis.

Sekarang kolam renang, ya walau saking padatnya jadwal kami jadi gak sempat berenang juga, dan gak yakin anak-anak mau berenang juga karena dingin.

harau 7

View nya bagus banget ya. Cuma kenapa ada si Patrick disana :). Kebersihan kolam 11-12 sama kebersihan kamar.

harau 10Malamnya kita bisa menyalakan api unggun di tengah lapangan, dan panggang-panggang.

O iya kalau mau menginap disini jangan musim hujan ya. Karena lembahnya bisa banjir. Dan kita terjebak disana gak bisa kemana-mana kecuali mau berenang-renang sampai ke jembatan. Ini foto teman saya waktu kebanjiran disana.

Air Terjun Harau

Di Harau, terdapat beberapa air terjun yang cukup indah yaitu Air Terjun Akar Berayun, Air Terjun Sarasa Bunta, Air Terjun Sarasa Murai, dan Air Terjun Sarasa Luluh. Saya cuma mampir di lokasi air terjun yang paling dekat dengan guest house kami.

air terjun

Air terjunnya persis berada di ruas jalan Lembah Harau. Air terjun ditampung dalam kolam. Di sekelilingnya banyak penjual makanan dan souvenir.

guest house
Salah satu guest house yang ada di Harau

 

Setelah puas menikmati pemandangan sekitar, membeli oleh-oleh, kami langsung cuzz meluncur ke Riau. Perkiraan saat jam makan siang nanti kami bisa beristirahat di

Rumah Makan Kelok Indah

RM ini sebetulnya RM makan melayu/ minang biasa, yang memang lauk pauknya terkenal kenikmatannya. Hanya menurut saya dendeng batokok disini sangat sangat enak.

kelok indah

Terletak di jalan lintas Riau-Sumbar, RM ini pas untuk tempat transit. Parkirannya luas, tapi tetap saja penuh sesak dengan kendaraan pengunjung.

kelok indah 2

Mbak asisten saya yang kurang suka masakan Minang pun bisa habis 2 porsi. Driver saya gak mau kalah dia tambo 4 kali. Total porsi makan gila-gilaan kami ber 4 dewasa plus 1 anak, tidak sampai Rp 150,000 rupiah, itupun sudah membungkus sebungkus sate padang.

Sampai di rumah tidak sabar menunggu tanggal merah berikutnya, karena masih banyak obyek wisata cantik di Sumbar yang bisa di kunjungi.

Iklan

8 respons untuk ‘Wisata Sumbar Bagian 3’

  1. Seru banget ih nginep di Lembah Harau. Mupeng aku. Cuma mampir aja kemarin udah senang bisa liat cantiknya. Apalagi nginep di sana. Betah…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s