Berlabuh di Payakumbuh

Long Weekend kemarin (hari Jumat ada libur Maulud Nabi), saya dan team jalan-jalan bersama ke Payakumbuh, Sumatra Barat.

Tulisan tentang perjalanan dan tempat yang kami kunjungi dibagi ke dalam 3 tulisan

Hari 1 : Perjalanan Berangkat, Padang Mangateh, Kepalo Banda

Hari 2 : Puncak Pato, Istana Pagaruyung, Desa Terindah di Dunia
Hari 3 : Review Echo Guest House, Air Terjun Harau, Kelok Indah, Perjalanan Pulang

Persiapan & Perjalanan

Anak-anak sudah semangat prepare barang-barang untuk jalan-jalan menginap selama 2 malam 3 hari. Baju renang, kacamata hitam (si kecil khusus beli kacamate cengdem nih biar bias action difoto nanti), ban berenang (naah ini juga khusus dibeli untuk berenang disana), guling (secara biasanya di penginapan cuma ada bantal ya, sementara kami kaum yang suka memeluk-meluk sesuatu kalau bobo…eaaa), bed cover (ya sapa tau disana dingin, atau kalaupun nggak bisa dipakai untuk alas kasur), rice cooker kecil (khusus beli baru untuk masak nasi si kecil) sampai gayung dan ember.

payakumbuh 1
wkwkwk ini piknik apa pindahan? perhatikan si kecil yang masih bobo dan ngedot didalam

Dari malam anak-anak sudah tidak sabar untuk ‘menginap di hotel’ istilah mereka.

“Ayoo bobo dulu, besok pagi baru kita berangkat”. Ekspektasi kami sih kami berangkat pagi-pagi jam 5-6 pagi. Anak-anak tidak perlu dibangunkan, cukup digotong pindah tidur di mobil. Tapi ternyata karena mereka sudah semangat dari malam hari, jadi pagi-pagi sudah bangun dan siap mandi. Bunda dan kakak malah sempat sarapan. Jam 5.55 kami berangkat.

Jam 7-an kami sampai kota Bangkinang. Bangkinang adalah ibukota Kabupaten Kampar yang berjarak sekitar 60km dari Pekanbaru. Kotanya rapi dan bersih serta jalan-jalannya lebar-lebar. Konon dulunya kota ini bagian dari Sumatra Barat, namun sejak jaman kependudukan Jepang menjadi bagian dari Riau. (sumber : Wikipedia)

Pemandangan alam sepanjang perjalanan cukup cantik, Ya maklum di Pekanbaru kan kotanya tertutup ruko 🙂 jadi lah anak-anak senang banget melihat jembatan, sungai besar yang tampak bersih, dan pepohonan hijau yang rindang.

rantau berangin
Jembatan di daerah Rantau Berangin

Di sekitar PLTA Koto Panjang kami singgah sejenak di warung pinggir jalan untuk nyuapin bocils dan sarapan. Saya sih cukup semangkok indomie aja :). Kami berhenti disana sekitar 1 jam kemudian melanjutkan perjalanan.

PLTA
Pemandangan PLTA Koto Panjang dari salah satu warung makan yang kami singgahi

O iya, sebelum lokasi warung tadi juga terdapat lokasi yang disebut Raja Ampatnya Kampar. Karena pemandangan dari sana yang sangat bagus mirip Raja Ampat di Papua sana (katanya ya, karena saya juga belum pernah kesana). Tapi saya tidak masuk kesana, karena lokasinya jalan tanah yang mendaki. Kalau dengan jalan kaki sekitar 30 menit… wewww gempor boww… kalau dengan sewa motor sewanya sekitar Rp 50,000. Motornya pun kalau sejenis motor matic emak-emak gak kuat nanjak disana :).

ulu-kasok-kampar-riau_20170927_114707
Ulu Kasok, Raja Ampatnya Kampar. Sumber : Tribun Pekanbaru

 

Finally sampailah kami di Kelok 9. Ketiga kalinya saya disini. Yang pertama naik travel dari Duri. Karena sudah tahu weakness saya yang pemabuk jadilah saya sudah minum Antimo. Eh ndilalah temen saya pake sok-sok an mbangunin saya “Ndang nih sudah sampai Kelok 9 mau lihat gak?” Dan resiko ditanggung penumpang. Muntah lah saya…haha…maapkeun. Kedua kalinya nebeng mobil teman bersama kakak saya yang waktu itu menengok dari Jakarta. Ya masak jauh-jauh dari Jakarta cuma diajak piknik di Plaza Citra Pekanbaru..hih…dulu mall nya cuma itu :). Lumayan lah saya nggak mabuk. Tapi kelok 9 jaman dulu beda sama jaman now 🙂 Yang sekarang sudah pakai jembatan layang yang tidak terlalu berkelok-kelok. Banyak tukang jualan di pinggir jalan, dan spot-spot foto disana sini :). Kalau mau memakai jasa tukang foto, sekali jepret Rp 15,000 langsung jadi.

kelok 9

Ada spot foto berbentuk hati yang menurut saya gak match dan terlalu unyu dibanding jembatan beton kekar di sekitarnya. Tapi entah kenapa banyak yang latah pakai love love hati-hati begitu untuk spot berfoto… well yeah, saya protes tapi foto disitu juga…haha…

Dari Kelok Sembilan menuju penginapan hanya sekitar 17 km lagi. Akhirnya sampai juga di Harau Resort Echo Guest House. Akhirnya bisa meluruskan kaki setelah pegel di tekuk-tekuk di perjalanan. Yakin langsung bisa istirahat? Ternyata tidak, karena jarak dari parkiran ke tempat penginapannya itu jauuuh banget, menyebrangi sungai, mendaki bukit…eciye lebayy… E tapi beneran jauh lho. Mana barang bawaan kita banyak banget, untung hotelnya menyediakan gerobak sorong itu tuh yang biasa dipake tukang untuk ngangkut pasir dan didorong :). Kalau nggak ada itu kebayang aja mondar-mandir bawain barang dari parkiran ke tempat penginapan yang ada di atas sana.

harau

Padang Mangateh

Setelah istirahat sejenak dan makan siang, kami bersiap melanjutkan jalan-jalan ke Padang Mangateh yang berjarak sekitar 21 km dari Echo Guest House. Letaknya di Jl. Padang Mengatas, Mungo, Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota.

Tempat ini sebetulnya adalah peternakan sapi yang bernama Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijau Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas. Awalnya ditujukan sebagai kawasan wisata edukasi, didukung oleh lokasinya yang cantik dengan pemandangan padang rumput dan sapi-sapi, sehingga dijuluki New Zealand-nya Sumbar.

Kawasan ini sempat ditutup untuk umum, karena ya lagi-lagi ulah pengunjung yang jago foto cantik tapi gak punya behavior cantik. Sampah berserakan, sapi-sapi sakit karena makanan yang diberikan pengunjung, belum lagi sapi stress mungkin karena pengunjung tidak tertib.

Dari situs http://www.wonderfulminangkabau.com, kawasan dibuka secara terbatas dengan beberapa syarat sbb :

  1. Mendaftar secara on line
  2. Pendaftaran dilakukan maksimal 1 minggu sebelum rencana kunjungan.
  3. Untuk pendaftaran secara on line, pada saat datang ke BPTUHPT Padang Mengatas harus membawa tanda bukti penerimaan (print out )
  4. Membawa surat pengantar dari instansi/ lembaga yang mengirim (formulir download disini)
  5. Kunjungan bersifat kedinasan/ di bawah arahan dinas/ lembaga/instansi dengan materi edukasi peternakan
  6. Bersedia mengikuti semua peraturan dan disiplin di BPTUHPT Padang Mengatas
  7. Kunjungan dilaksanakan pada hari kerja dan pada jam kerja
  8. Kunjungan dilaksanakan setelah adalanya informasi resmi dari BPTUHPT Padang Mengatas, di kirim melalui email yang di daftarkan pada saat pengisian formulir
  9. Kunjungan yang bersifat pribadi/ umum tidak di verifikasi
  10. Pengunjung yang tidak membawa/ tidak bisa menunjukkan tanda bukti penerimaan dari BPTUHPT Padang Mengatas, tidak di izinkan memasuki kawasan pembibitan BPTUHPT Padang Mengatas
surat padang mangateh
toh surat permohonan kunjungan ke Padang Mangateh

 

Pemandangan Padang Rumput dengan latar belakang pegunungan

padang mangateh 1

Anak-anak bisa bebas berlarian di sepanjang jalan, karena mobil tidak diperkenankan masuk area ini, kecuali yang berijin

padang mangateh

Ibu-ibu bisa foto ala-ala, sayang sapinya gak keliatan, mungkin lagi pada bobo ciang…hihi…(resolusi fotonya saya kecilin 10% biar gak terlalu berat saat buka halaman ini, aslinya pemandangannya betul-betul keren dan bagus)

padang mangateh 3

Nah disini baru deh keliatan sapi-sapinya 🙂

padang mangateh 4

Kepalo Banda

Dari arah Padang Mangateh, kembali ke arah Harau, ada obyek wisata lagi yang bernama Kepalo Banda Taram. Berjarak sekitar 10km dari Padang Mangateh. Aslinya kayaknya sungai yang dibendung saja. Menjadi hits sejak banyak yang post foto-foto berakit-rakit ke hulu eh naik rakit di sana.  Pemandangan menuju kesana melewati sawah dengan latar belakang pegunungan yang cantik. Wah ekspektasinya sampai lokasi tentu lebih oke. Masuk ke lokasi bayar karcis saya lupa harganya, 3000 atau 5000 kalau gak salah per orang.

Daan ini tempatnya. Kebetulan airnya sedang surut. Di pojok tempat orang berkumpul lagi-lagi ada spot foto dengan latar belakang hati, lope lope, persis kayak di Kelok 9. Hadeeuh… Saya mah sayang sepatu sama kaus kakinya mau nyeker main air kesana. Dan percayalah obyek foto saya saat itu, foto yang dibawah ini adalah angle foto terbagus saat itu.

banda

Kenapa bisa ngomong begitu? Karena ya ampuun lokasinya full of sampah sodara-sodara.  Mulai dari lapangan parkir seadanya yang ditumbuhi rumput tinggi-tinggi dengan botol aqua berserakan dimana-mana. Kayaknya gak mungkin cuma sampah hari itu aja, yang artinya gak pernah disapu donk ya.

Sungainya? Hmm selain postingan foto diatas yang cukup instagrammable dikasih edit pencahayaan dikit, spot foto sungai di bagian lainnya penuh sampah. Mulai dari bungkus makanan sampai diaper bayi. Hadeuuh. Pengunjung dan pengelola kayaknya sama-sama berkontribusi atas kekotoran ini.

banda 3

Kalau berpikir saya lebay, okelah mari kita lihat kamar mandi umumnya. Dengan 1000, udah dapet KM yang lumayan wangi karbol di WC umum POM Bensin atau bahkan pasar Tanah Abang.

banda2

Saran untuk pemerintah daerahnya, disediakan lah budget untuk merapikan kamar mandi, bikin plang2 jagalah kebersihan, sediakan tempat sampah yang eye catching di banyak lokasi, bayar orang bersih-bersih, misal 2-3 orang dengan gaji UMR, beli karbol, biaya gunting rumput dsb. Sayang aja sih alam yang cantik jadi penuh sampah.

Oke akhirnya dengan bisa kembali ke lokasi penginapan. Menu malam ini Sate Dangung-Dangung yang enak banget. Dagingnya lembut berbalut parutan kelapa dan bumbu-bumbu. Sudah enak dimakan tanpa kuah kentalnya. Setelah kenyang, walau teman-teman pada ber-organ tunggal di aula, saya memilih tidur saja.

Happy Sleeping!

Iklan

4 respons untuk ‘Berlabuh di Payakumbuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s