Lactacyd Baby, Pelindung Kulit untuk Bayi Alergi

Anak kedua saya terlahir normal dan bugar. Tapi tiba-tiba di hari kedua, seluruh wajah dan badannya merah-merah. Saat itu dokter suspect anak saya alergi terhadap dingin, sehingga AC di dalam kamar perawatan di stel tidak terlalu dingin, dan sepertinya merah-merahnya berkurang. Ternyata setelah di rumah, merah-merahnya masih berulang, kadang timbul kadang hilang.

benaya
Si kecil di usia 2 hari (kiri), saat kulitnya normal (tengah) dan saat ruamnya muncul (kanan)

Semakin lama, ruam di kulitnya bertambah parah, apalagi dia sudah bisa menggaruk bagian tubuhnya yang gatal, sehingga akan menimbulkan luka. Setelah mondar-mandir dari satu dokter ke dokter yang lain, akhirnya baru di dokter keenam sepertinya cocok dengan anak saya. Diagnosis semua dokter tipikal, bahwa anak saya mempunyai bakat alergi. “Duh nak, bakat itu mbok ya nyanyi atau menari.”Tapi ya bukan salah anak saya juga, karena sebagian besar alergi adalah faktor keturunan dari orangtuanya. Nah pas banget tuh, kebetulan saya dan pak suami sama-sama punya hobi biduran ….ya ampun hobi kok ya biduran ya bukan menyanyi, itulah sebabnya kisah hidup kami dijadikan lagu yang berjudul “Kisah Seorang Biduran” eh itu mah Kisah Seorang Biduan ya…

Jadi kalau dari leaflet yang kami temukan saat sedang antri di dokter anak, ayah yang alergi dan ibu yang alergi maka berpotensi menurunkan kepada anaknya sebesar 40-60%. Jadi teman-teman yang masih single, kalau saya memberi saran, saat ketemu pria, jangan cuma ditanya “Do you have car? Do you have apartment?” Tapi tolong juga ditanyakan “Do you have allergy?“.  Penting ini untuk kebahagiaan anak-anak kita kelak dan kenyamanan tidur malam kita (eh iya lho, bayi alergi cenderung tidak membiarkan emaknya bobo lelap di malam hari, a.k.a rewel).

FB_IMG_1506333160495
Sumber : Leaflet Mead Johnson, di ruang tunggu dokter anak 🙂
genetic-allergy
sumber : Aufalactababy.com

Beberapa ciri-ciri bayi alergi yang terdapat di anak saya :

(Sumber : www.childrenallergyclinic.wordpress.com)

  • Gangguan saluran cerna : Sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama malam hari.
  • Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok
FB_IMG_1506332054832
Sumber : Fanpage Lactacyd Baby
  • Kerak di daerah rambut.
  • Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • Lidah sering timbul putih (seperti jamur).
  • Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang.
  • Kepala sering miring ke salah satu sisi (sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu
  • Sering tersedak karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI
  • Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
  • Sering berkeringat (berlebihan)
  • Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun)

Poin diatas saya share karena di awal saya super duper khawatir, kok anak saya belekan sebelah ya (betul-betul hanya sebelah), apa matanya bermasalah? Kok anak saya lidah nya putih? Apa jamuran? Apa saya kurang higienis. Ternyata itu bagian dari ciri-ciri bayi alergi. Ya bukan berarti alergi tidak mengkhawatirkan, tetapi kalau kita sudah tahu penyebabnya, kita bisa lakukan pencegahan dan perawatannya.

Tata Laksana Alergi untuk si Kecil :

1. Menghindari Alergen/ Pencetus Alergi

  • Diet makanan : Selama si kecil masih ASI, maka saya melakukan diet ketat untuk makanan dan minuman yang saya makan. Dari salah satu dokter anak yang saya datangi ada list diet phase 1, 2, dst. Dimana kalau kita sudah aman melewati phase 1 maka kita bisa lanjut ke phase 2, dst, Tetapi jika si anak menunjukkan tanda-tanda alergi kembali maka kembali ke phase sebelumnya. Dan anak saya selalu stuck di phase 1.  Saking banyaknya makanan yang di pantang, saya lebih mudah menghapal makanan yang boleh dimakan. Protein hewani hanya daging sapi, buah hanya papaya, pir dan apel. Mungkin ibu-ibu yang lain tidak bisa membayangkan bahwa semua buah bergetah dan berair memicu alergi. Jadi saya bisa makan seiris semangka, dan besoknya pipi anak saya merah-merah semua.

Capture

Tepat 1 tahun anak saya lulus ASI, saya baru berani makan telur dadar untuk pertama kalinya sejak diet ketat, tanpa anak saya merah-merah. Rasanya itu makanan terenak yang pernah saya makan :).

  • Mengurangi debu : Mempunyai anak alergi membuat saya mau tidak mau jadi agak sedikit rajin. Kamar si bayi dibuat seminimalis mungkin. Bye-bye gorden yang menjuntai sorendoreri, lupakan karpet bulu yang empuk, singkirkan boneka bulu-bulu punya si kakak, sampai kelinci yang dibawakan si mbak asisten saat pulang mudik untuk anak saya yang pertama, saya ungsikan ke rumah orangtua. Kenapa harus minimalis? Biar lebih gampang membersihkannya. Kamar selalu disapu dan di pel atau di vaccum cleaner. Dan saya juga menambahkan air purifier di kamar si kecil. Saking paranoidnya saya jarang bawa dia ke luar rumah.
FB_IMG_1506331928838
Sumber : FB Lactacyd Baby
  • Menghindari pemakaian deterjen : Deterjen bukan hanya di sabun deterjen untuk mencuci pakaian saja, tapi juga sampo dan sabun untuk bayi yang biasa beredar di pasaran, mengandung deterjen walau dalam kadar kecil. Jadi saya pakai apa donk untuk mandi si kecil, ada di tata laksana berikutnya.

2. Perawatan Kulit

Kulit anak penderita alergi tidak boleh kering. Karena semakin kering, maka akan semakin gatal. Karena itu kulitnya harus dijaga kelembabannya. Untuk air mandinya dianjurkan tidak terlalu panas bahkan cenderung dingin. Pertama-tama saya pakai air mineral, saking desperate-nya kulitnya selalu merah-merah. Lama-lama air isi ulang. Lama-lama air keran yang di filter…haha…hayati lelah nak, boros 🙂

Boros di air tapi tidak boros di kosmetik bayi. Karena si kecil tidak bisa pakai sabun baby, shampoo baby, minyak telon, minyak rambut, baby oil, baby lotion, dan sebagainya. Si kecil pakai produk dari dokter yang boleh di-reimburse kantor….syalala….

Untuk mandinya, dia memakai LACTACYD Baby. Lactacyd Baby adalah sabun kesehatan untuk menjaga dan merawat kulit bayi yang masih sensitif. Produk dari PT Sanofi Aventis ini mengandung komposisi yang aman untuk bayi dan anak dan dapat mengatasi iritasi ringan pada kulit.

Sanofi adalah perusahaan yang bergerak di bidang layanan kesehatan, yang berpusat di Perancis dan memiliki cabang di banyak negara. Di Indonesia, Sanofi hadir melalui afiliasi dengan Aventis Parma sejak tahun 1969. Lactacyd Baby sebagai salah satu produknya adalah brand internasional yang sudah teruji secara dermatologis aman untuk dipakai sehari-hari di kulit bayi.

komposisi 2

Lactacyd Baby dibuat dari bahan dasar ekstrak susu laktoserum dan asam laktat yang baik untuk kesehatan dan kebersihan kulit bayi.

pH atau potential hydrogen adalah kandungan hidrogen potensial yang menunjukkan derajat keasaman suatu benda. pH yang lebih rendah artinya bersifat asam dan pH yang tinggi artinya basa. pH dari Lactacyd Baby adalah 3-4, sesuai untuk menjaga keseimbangan kulit bayi. pH kulit bayi normalnya di angka 5.5. pH asam lebih kuat melawan bakteri dan jamur di kulit bayi, itu sebabnya bayi alergi dan berkulit sensitif disarankan untuk memakai Lactacyd Baby.

FB_IMG_1506332093608
Sumber : Fanpage Lactacyd Baby

Lactacyd Liquid Baby dikemas dalam bentuk botol putih yang ringan. Tersedia dalam kemasan 60ml, 150ml dan 230ml. Untuk pemakaian sehari-hari di rumah, saya biasa memakai botol besar. Sementara untuk bepergian saya bisa membawa kemasan kecilnya.

Untuk harga karena selama ini saya pakai resep dokter jadi gak pernah beli deh…hihi…tapi ini rentang harga dari hasil intip di toko-toko online dan minimarket dekat rumah :

  • 60ml : 23.000 – 33.000
  • 150ml : 60.000 – 75.000
  • 230 ml : 85.000 – 90.000

Cara pemakaiannya :

Sebelumnya botol kita kocok dulu, kemudian saya biasa menuangkan 3-4 sendok penuh ke dalam bak mandi. Campuran air dan lactacyd ini digosokkan ke badan dan wajah si kecil agar kotoran di tubuhnya hilang. Jika sudah selesai bisa kita bilas dengan air bersih dan dikeringkan dengan handuk lembut.

Saya juga memakai larutan Lactacyd baby untuk membersihkan kepala si kecil. Dipakai seperti biasa kita memakai shampoo, dan ternyata kerak kepalanya (cradle cap) juga menipis dan lama kelamaan bersih.

Kalau si kecil sedang muncul ruamnya, saya bisa langsung menuangkan ke tangan saya, menggosok-gosokkan sedikita agar berbentuk busa walau tidak banyak, dan dioleskan di bagian kulit yang ruam.

Sesudah rutin memakai Lactacyd baby setiap mandi, kerak kepala si kecil  hilang, ruam di wajah dan bagian-bagian tubuh mulai menipis dan lama-kelamaan hilang.

Ini foto baby yang sama lho…cuma beda angle dan pose ndlongop nya saja.

Informasi menarik lain mengenai Lactacyd Baby dan perawatan anak bisa kita dapatkan melalu Facebook Fanpage : Lactacyd Baby

#BabySkinExpert #LactacydBaby

Iklan

2 respons untuk ‘Lactacyd Baby, Pelindung Kulit untuk Bayi Alergi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s