Where to Find Bedinde

 

Problem klasik ibu bekerja adalah Asisten Rumah Tangga (ART) atau Baby Sitter (BS) atau Mbak atau Pengasuh atau Bedinde untuk menjaga anak-anak selama bekerja. Kalau jaman single dulu, nyari pacarnya susahnya minta ampun. Maka jaman jadi emak beranak satu, nyari bedinde susahnya minta ampuuun (dengan 3 huruf “u”), dan setelah jadi emak beranak dua, nyari bedinde susahnya minta ampyyyuuun (bonus 3 huruf “y”).

Waktu si KK lahir, kami langsung boyongan ke Duri, suatu kota kecamatan di Sumatra yang jarak tempuh dari bandara 3 jam kalau lancar-lancar saja. Dan seringnya sih nggak lancar dan itu tidak ada batas maksimumnya. Dan mayoritas ‘mbak’ yang saya tawarin kerja saat saya masih di Jawa, tadinya mau, begitu bilang nanti saya bawa ke Duri langsung tuing-tuing, mindik-mindik, dan nyanyi lagu Kris Dayanti I’m sorry goodbye.

Akhirnya setelah bertungkus lumus, nelpon ke agen, makelar, yayasan, whoever, setiap hari, masuk dalam daftar waiting list para agen, sesudah mengalami punya asisten yang error-error, suatu hari sahabat saya, sebut saja Mawar, telpon “Mbak, kamu sudah dapat baby sitter?”. Itu rasanya lebih daripada pemberitahuan dapet undian kulkas (kalo mobil mungkin belum bisa dibandingin ya).

Singkat kata singkat cerita, jadilah saya punya BS yang mengasuh si KK sampai berumur 3 tahun. Menjelang si AD akan lahir saya juga sudah punya mbak, jadi saya pikir nanti si AD diasuh mbak BS dan si KK karena sudah gede dan gak perlu special treatment bisa sama mbak.

Tapi ya gitu deh, Untung tak dapat diraih, Ari tak dapat ditolak (nama artis kan, Ari Untung…hiiii gariiing). Manusia berencana, Tuhan juga yang menentukan. Ndilalah BS saya dapat offering. Dia ditawarin Mawar untuk bekerja mengasuh anaknya. Iya, Mawar yang dulu nawarin BS buat kerja sama saya, 2 bulan sebelum launching si AD.

Pyuuh sedihnya, susahnya, sakitnya tuh disini. Kayak kita punya pacar yang udah dipersiapkan buat ndampingin wisuda, eeh pas udah deket hari H-nya, pacar kita ninggalin. Dan sedihnya pacar kita diambil temen sendiri…. Lebay ya perumpamaannya…yee biarin… Emak-emak yang punya 1 anak balita dan mau lahiran beberapa bulan lagi pasti bisa merasakan hal yang sama.

Balik ke perumpamaan saya, mo salahin siapa? Salahin pacar yang berpaling ke orang lain? Salahin temen kamu yang ngambil pacar kamu? Ya gak bisa juga sih, siapa tahu pacar kamu bosen. Siapa tahu dia kurang kamu kasih perhatian dan temen kamu bisa kasih lebih. Siapa tahu temen kamu susah dapet pacar dan berpikir kamu lebih gampang cari pacar daripada dia. Siapa tahu temen kamu pikir kan pacar kamu juga dia yang ngenalin, jadi boleh donk diambil sewaktu-waktu.

Anyway busway, apapun kondisinya wisuda kan gak mungkin diundur ya. Begitu juga baby kan gak mungkin juga bisa diundur lahirnya. Akhirnya setelah si AD lahir dan mbak BS resign, saya bisa dapat tukang cuci gosok nyapu ngepel yang bisa pulang sore saat saya pulang kantor. Jadi punya 1 stay-at-home mbak dan 1 mbak pocokan (yang pulang) plus ibu saya tentu saja buat ngawasin mereka dan anak-anak. Belakangan si mbak yang pocokan juga mau menginap, jadi lumayan membantu saya saat harus begadang ngurus 2 bocil.

Dalam hidup memang harus terima kenyataan seperti kata Peterpan bahwa ¯ tak ada yang abadi, tak ada yang abadi, tak ada yang abadi ¯, tidak pacar, tidak pekerjaan, tidak juga bedinde 🙂 . ¯Kau datang dan pergi sesuka hatimuuuu….¯.lha kok jadi nyanyi lagu Diana Nasution begini ya 🙂 . No matter what, hidup harus berjalan… kenapa jalan, kenapa gak ngojek? Jaman si AD lahir belum ada gojek….aissh…sudahlah, nglantur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s