Everything About si Mbak

Jelang lebaran gini, sebagian ibu-ibu pekerja seperti saya, harap-harap cemas. Bukan cemas akan THR, tetapi cemas apakah mbak asisten akan kembali kerja setelah mereka cuti lebaran. Ataukah kita akan mengalami fase pencarian mbak-mbak kembali.

Jika ibu-ibu termasuk golongan yang mendapat sms permohonan maaf paling menyedihkan di hari lebaran “maaf bu saya tidak balik lagi”, maka mari kita refresh kembali kenangan sbg manager HRD berikut ini :

1. Head-hunting : mencari asisten baru via agen, makelar, biro jasa, titip tetangga.

Sejak menikah saya sudah berpengalaman mencari 8 asisten full day, 2 assisten part time (a.k.a pulang hari, gak nginep)n dan 2 asisten inval saat lebaran.

Sumbernya beragam :

a. Nyari langsung ke desa-desa.

Plusnya tidak ada biaya administrasi agen. Kita tahu asal-usul si mbak, minimal tahu rumahnya.

Deltanya kita harus siapin waktu, tenaga dan biaya buat nyari. Sekarang juga sampai ke desa-desa yang saya tahu, sudah susah cari asisten. Mungkin bukti kalau perekonomian dan pendidikan semakin baik dan merata.

Di beberapa wilayah juga ada yang sudah jadi kantong pencarian TKI untuk kerja di luar negeri. Kalau sudah begitu gak usah susah-susah job offering, gaji yang kita tawarkan biasanya jauh dibawah kerja di luar negeri.

b. Via agen profesional/ biro jasa

Plusnya biasanya stock available, nomer telp mereka juga available di google search. Dilengkapi dengan surat perjanjian sehingga hak-hak user dan pekerja jelas. Ya walaupun banyak juga case yang janji janji tinggal janji..bulan madu kau ingkari..haha lagu jadul.

Negatifnya biaya administrasinya banyak banget. Contoh ambil baby sitter dari magelang untuk dibawa ke riau tahun 2011. Untuk gaji si mbak yang 1.500.000, biaya yang dikeluarkan tiket pesawat, uang administrasi 1.500.000, uang kontrak kerja 1 tahun  10% x gaji si mbak x 12 bulan.

Belum lagi uang seragam 3bln sekali, libur 2 hari setiap 2 minggu sekali atau ditukar uang rp 150.000.

Kadang si mbaknya juga terlalu perhitungan soal pekerjaan. Ini termasuk tugas saya gak bu? Disana ada pembantu lain gak? Punya mesin cuci gak bu? Mesin cucinya 1 tabung atau 2 tabung bu?  Auk ah mbak…

c. Via makelar tradisional

Biayanya lebih murah. Biasanya hanya ganti sekitar ongkos dia dan si mbaknya. Rentangnya biasanya antara 300.000 – 700.000 rupiah.Gaji si mbak dan uang ambilnya masih negotiable. Mereka biasanya ambil secara berkala setiap pulang kampung ke desanya.

Deltanya perjanjiannya kurang jelas. Jadi kalau si mbak gak betah ya udah deh gak ada gantinya. Mereka juga gak perlu jaga image kayak agen besar yang harus jaga nama baiknya.

d. titip tetangga/ titip pembantu tetangga

Biasanya saat mereka pulang kampung. Hampir mirip sama poin c. Bedanya yang d paling tidak komersil. Kurang lebih diganti ongkos-ongkos sampai ke rumah kita plus uang lelahnya. Positifnya juga karena referensi orang yang kita kenal, jadi sedikit banyak lebih aman dan amanah.

Deltanya stock yang ada limited, dan waktu ambilnya juga gak setiap saat.

2. Interview process

Nyari asisten itu sama susahnya sama nyari kerjaan. Kalo nyari kerjaan kita ninggalim CV dimana-mana menunggu panggilan. Kalau cari pembantu kita ninggalin waiting list no HP dimana-mana.

Oke critanya akhirnya kita ditelpon nih, “bu ini ada orang yang mau kerja”.

Kalau bisa sih, walau kita butuh banget, sempatkan ngobrol dan tanya-tanya, baik langsung ataupun via telpon. Jangan berpikir kayak interview perusahaan ya. Saya sih tanya hal-hal umum aja. Beberapa poin-poin kalau mau dicontek.

Untuk baby sitter / pengasuh anak :

– sudah pernah mengasuh anak sebelumnya?

(Kalau untuk mengasuh bayi, saya preferred yang sudah biasa mengasuh bayi juga. Sudah punya anak lebih baik)

– anak yang diasuh umur berapa?

(Karena kesabaran dan ketelatenan mengurus bayi baru lahir dan balita umur 3 tahun tentu berbeda)

– bisa mandiin bayi baru lahir? (jangan ketawa ya, karena saya pernah ketemu baby sitter yang gak bisa mandiin bayi)

Untuk pekerjaan rumah tangga :

Biasanya sih saya gak terlalu tanya-tanya kalau untuk pengurus rumah tangga, cukup bisa masak kan mbak? (Haha penting banget karena saya suka makan dan gak suka masak)

Pertanyaan Umum :

– kenapa keluar dari pekerjaan sebelumnya?

– kerja berapa lama di tempat-tempat sebelumnya?

(Pertanyaan-pertanyaan diatas terkait loyalitas dan tingkat kebetahan dia bekerja)

– pertanyaan seputar keluarga. Punya ayah ibu? Kakak adik? Suami? Anak?

Tanyakan juga apakah diijinkan oleh orangtua/ suaminya untuk bekerja?

Mereka gak papa ditinggal bekerja merantau?

(Pertanyaan ini untuk mengukur jangan sampe dia jadi berantem sama orangtua/ suami gara-gara kerja di rumah kita)


3. Salary & Benefit Offering

Gaji asisten rumah tangga, berdasar ngobrol-ngobrol sama sesama ibu-ibu, biasanya berkisar  1 juta – 1.5juta. Yang dibawah itu masih ada juga sih, cuma saya pernah lho titip cariin asisten dari Yogya, dan pas nawarin gaji 1juta untuk kerja di Jakarta dijawab, “yen mboten sak yuto punjul nggeh kulo nyambut gawe mriki mawon, bu”  (kalau tidak satu juta lebih ya saya bekerja disini saja bu). Hiks..jadi tengsin. Tapi memang kerja untuk cuci gosok di Yogya sudah di rentang 400-600rb an. Mereka bisa kerja di 2-3 rumah di dalam satu komplek yang sama dan tetap bisa pulang ke rumah mengurus keluarganya.

Standar gaji diatas rata-rata ya, karena temen saya yang gaji mbaknya diatas 3.5jt/bulan juga ada. Yah itu kita anggap saja outlier.  Sesuatu di luar trend.

Gaji baby sitter (BS) lebih mahal, biasanya di rentang 2juta-3.5 juta. Tentu selalu ada outlier disana.

Saya cuma pakai BS untuk anak pertama. Sesudah punya anak 2, saya pakai mbak biasa. Selain efektif bisa ngerjain kerjaan apa aja, efisien juga karena lebih hemat 😊. gak sehat juga kalau 1 rumah punya dua atau lebih asisten dengan gaji njomplang.

Kalau ada yang bagus tapi gaji yang diminta diatas budget kita, jangan ragu untuk menawar. Biasanya bisa turun 10% an 😉. Maafkeun ya saya tipe emak yang hobi nawar.
Diluar gaji, harus dianggarkan benefit untuk memberi kebetahan dan apresiasi atas kerja mereka. Bukan yang fantastis-fantastis sih (ya boleh mampu tentu saja boleh). Saya list dari yang primer sampe tersier :

– THR, umumnya 1x gaji dibayar setahub sekali sebelum hari raya. Kalau belum bekerja 1 tahun dan kita ingin prorata dijelaskan sebelumnya.

– Cuti dan ongkos pulang kampung.

Biasanya sih teman-teman saya kasih cuti setahun sekali saat lebaran. Lamanya antara 2-3 minggu.

Di tempat saya cuti setahun 12 hari kerja. Bisa diambil 2x atau lebih tapi saya cuma ganti ongkos pulang pergi 2x dalam setahun. Saya beri minimal setahun 2x, karena kebetulan mbak-mbak saya punya suami/anak. Saya pikir mereka tetap punya kewajiban menengok mereka.

– Oleh-oleh, karena mbak saya kalau pulang kampung selalu bawa oleh-oleh seabreg-abreg jadi saya bawakan mereka juga oleh-oleh untuk keluarga mereka di rumah.

– Hadiah saat mereka ulang tahun. Bisa kado bisa kue ulang tahun atau keduanya. Jangan berpikir saya lebay ya, soalnya mbak-mbak saya ternyata selalu siapin kado untuk anak-anak saya.

– Family Visit

Haha ini serius lho..jadi mbak-mbak saya, saya beri bonus untuk dikunjungi suaminya / anaknya atas biaya saya.

Bukan karena saya baik hati dan tidak sombong, tapi karena praktis aja, daripada mereka cuti bolak balik dan saya gak ada yang bantu, ya sudahlah mereka aja yang dikunjungi

– Bonus karena sudah bekerja sekian lama.

Misal teman saya kasih bonus dikreditkan motor sesudah 5 tahun bekerja di tempatnya.

Bahkan ada yang sampai di ikutkan umroh setelah bekerja sekian tahun.

O iya di proses ini kadang  beberapa teman saya memasukkan medical check up. Beberapa RS menyediakan paket med check untuk calon pekerja rumah tangga.

4. Job description

Sesudah ketemu mbak yang tampaknya jujur, baik dan bisa diarahkan, dan dia setuju dengan gaji yang kita tawarkan. Baru kita buat job deskripsi.

Kalau mbak asisten cuma satu lebih gampang sih. Bisa aja kita bilang, pekerjaanmu ya melakukan yang saya suruh…titik. hehe..gak gitu juga sih.

Job desk membantu kita menetapkan standar yang baik untuk mereka. Ya sapa tau abis kerja di rumah kita, terbiasa dengan pola yang teratur,  mereka bisa kerja sama Ashanty dan diajak jalan-jalan ke luar negeri. Selain itu kalo mbak asisten lebih dari 1 menghindari iri diantara mereka.

Teman saya bikin job desk yang sangat detail buat mbaknya termasuk kunci pager jam 9 malam.

Soal bikin planning saya jago-jago aja sih. Mau sedetail apa juga bisa. Cuma monitoring dan pengawasannya yang rada ribet, capek kalo terlalu nyinyir. Capek di dia capek juga di kita, dan terlalu nyinyir juga berarti harus siap-siap balik ke phase no 1 .

Kalau mbaknya sudah  experience job desk bisa dibuat umum. Seperti mbak-mbak saya dulu. Mbak 1 tugasnya

  • Mengurus anak no 1 (makan, mandi, anter jemput sekolah)
  • Masak
  • Setrika pakaian
  • Nyapu ngepel lantai 2

Mbak 2 tugasnya

  • Mengurus anak no 2 (makan, mandi, main)
  • Cuci baju
  • Nyapu ngepel lantai 1

Kalau belum pengalaman, maka perlu di detailkan, contohnya :

Mbak 1 :

Jam 4.30 : masak

Jam 6.00 : mandiin si sulung dan suapin

Jam 7.00 anter ke sekolah

Jam 8.00 nyapu ngepel

Jam 11.00 jemput si sulung

Jam 12.00 suapin si sulung

Jam 13.00 sulung bobo, dia ishoma

Jam 15.00 masak sore

Jam 17.00 mandi dan suapin sulung

Jam 18.00 mandi ishoma

Jam 19.00 suapin sulung

Jam 20.00 setrika

—-

5. Mentoring

Jangan terlalu berharap kalau dapet mbak terus bisa langsung ready ya. Kalau bisa dapet begitu ya rejeki emak solehah. Tapi kalau nggak ya perlu itu proses mentoring..haha namanya keren amat. Padahal sih ya maksudnya ngajarin aja. Dan jangan bosen ngingetin, karena sebagian dari mereka pelupa.

Mbak saya pernah anak ABG yang belum pernah liat alat-alat rumah tangga yang ribet-ribet (istilah dia). Padahal ya cuma mesin cuci. Dia prefer cuci pake tanggan karena beberapa kali diajarin gak bisa-bisa juga. Padahal rumah saya waktu itu rumah kantor yang gak punya ruangan untuk cuci baju manual ala di kampung-kampung. Jadilah dia tiap hari nyuci di halaman belakang dengan papan penggilesan dan bak mandi gede-gede untuk tampungan air, diiringi tatapan takjub security atau tetangga kami yang hidup super modern.

Gak terhitung barang-barang saya yang rusak sama dia. Misalnya ceret penyok karena dia salah muter tombol kompor. Kenop mainan anak saya dihidupkan dengan diputar semua dol. Sampai saya keluarin warning dilarang muter kenop mainan anak-anak. Bahkan alat sederhana kayak sapu dan kain pel pun gagangnya bisa patah.

Mengajari tipe yang begini perlu kesabaran ekstra. Mungkin bukan ndableg tapi ya memang dia punya kekuatan tenaga super extra jadi gak bisa pekerjaan-pekerjaan halus. Akhirnya karena nyerah ngajarin dia kurangi powernya, saya oper ke pekerjaan kasar semacam nyapu pekarangan rumah kantor yang luas banget…haha…

Jaman dulu anak pertama, saya masih rajin bikin catatan-catatan buat mbak. Kayak di tas bayi buat pergi keluar ada check list barang yang harus ada. Punya daftar menu makanan baby 1 bulan. Punya daftar menu mingguan emaknya. Makin kesini mbaknya makin pinter, sayanya makin males 😁😁

6. Termination

Seperti kata lagu. Tak ada yang abadi..tak ada yang abadi…Punya mbak juga gitu, gak selalu mulus happily ever after. Kadang proses pemutusan hubungan kerja atau resignation terjadi.

Rekor tercepat saya PHK mbak yang full time nginep di rumah adalah 14 hari.

Untuk pembantu yang tidak nginep rekornya 3 hari tapi karena dia yang resign.

Problem ibu-ibu rumah tangga biasanya bagaimana cara ‘memecat’ mereka dimana kita ngerasa gak sreg sama kerja mereka. Gak sreg ini bukan karena tindak kriminal kayak pencurian dan sebagainya ya, karena kalau itu kan gampang aja.. laporin aja polisi.

Kalau gak sreg sama pembantu itu ya kayak mau mutusin pacar bukan karena dia selingkuh tapi karena dia suka ngupil misalnya. Jarang kita bilang “aku mau putus…kamu suka ngupil sih”. Paling kita bilang dengan sopan “kayaknya kita gak cocok kamu terlalu baik buatku.” Iissh malesin yaa…haha..gombal ya…kalo dia jadi penjahat emang terus situ mau balikan.

Saya sih biasanya bilang “mbak aku gak perpanjang lagi. Kayaknya kamu gak cocok sama anakku.” (Iiih bunda, fitnah bawa-bawa nama anak). Tambahkan ucapan terimakasih. “Terimakasih udah bantu-bantu aku selama ini.” Jangan lupa dikasih bekal untuk ongkos pulang kampung.

Nah kalo dia yang resign gimana? Biasanya kita masih bisa nego minta perpanjangan waktu sampai kita dapet mbak yang baru.

Waktu saya hamil anak kedua. Disaat anak pertama baru mau masuk sekolah playgroup. Tiba-tiba mbak pengasuh anak pertama dari dia masih bayi mau resign. Sudah susah dan sedih membayangkan anak pertama menghadapi sekolah baru, rebutan perhatian bunda sama adik baru, cari mbak baru lagi. Lebih sedihnya lagi si mbak resign karena ditawarin bekerja di rumah teman saya sendiri. Itu sedihnya kayak diputusin pacar karena diambil teman sendiri. Eh lebih sedih kayaknya…haha..

Tapi life must go on kan. Jadi ya suka gak suka kita harus mulai phase pertama kembali.

Semangat sambut lebaran, moms

Selamat ditinggal si mbak mudik!

Iklan

2 respons untuk ‘Everything About si Mbak

  1. ah drama cari pembantu sdh gak ada lagi , setelah anak bungsuku empat tahun dan bisa diajak ikut kerja, aku gak cari pembantu lagi, rasanay legaaaaa

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s