Filosofi lele bakar dan ayam rendang 

Siang ini saya singgah di Warung Makan Kota Buana di Rumbai untuk memesan rendang daging untuk oleh-oleh di rumah. Karena memang walau ibu saya or si mbak di rumah yang bikin, rasanya gak senendang rendang narkoba ini (narkoba = nasi rames kota buana)…persamaannya sama narkoba psikotropika ya sama-sama nagih 😃😃

Kebetulan sajian di depan mata adalah lele bakar yang berbumbu plus rendang ayam yang kental…hmm…bayanginnya aja udah ngecess kaan.

Ngomong-ngomong soal lele…seingat saya dari kami kecil sampai besar ibu saya gak perna masak lele untuk kami. Itu sebabnya saya gak pernah suka lele…lho gak makan kok bisa bilang gak suka. Ya mungkin saya cuma berasumsi bahwa ibu saya gak masak maka rasanya tidak enak. Sampai akhirnya saya mencoba lele goreng krispi di suatu rumah makan di Yogya..Hmm ternyata enak juga.

Walau sekarang saya sudah suka lele, tapi tetap ada teman-teman yang gak suka lele. Entah atas dasar asumsi seperti saya dulu. Atau karena sentimen negatif (pokoknya muka tuh lele yg kumisan nantangin banget, ngajak berantem, gw gak suka!), atau karena referensi agama yang dia percayai dimana ikan tidak bersisik tidak boleh dimakan.

Mau itu lele udah di olah jadi filet, nugget, abon, gak suka ya gak suka.

Semua preferensi mereka dan dasar penolakan mereka saya hargai. Mau saya ngomong sampe capek kalo lele sudahlah ekonomis, mengandung omega, bergizi…ya tetap aja, gak doyan ya gak doyan.

Begitu juga teman-teman saya, saat saya menetapkan niat mau makan lele, gak pernah mereka teriak-teriak ke saya atau mengingatkan dengan lembut kalau lele itu binatang yang jorok, bisa hidup di empang tapi bisa juga hidup di septic tank. So far temen-temen saya gak ada yang songong ngejek-ngejek gitu sih.

Kami bisa menikmati makan siang bersama-sama, bergandengan tangan menuju warung padang, menikmati hidangan dengan menu pilihan masing-masing. Ada yang pilih lele bakar, ada yang pilih rendang ayam.

Selesai makan, semua sama-sama kenyang, sama-sama bahagia.

Kalau kita tidak bisa mempengaruhi orang lain soal pilihan menu makan…apalagi soal pilihan pemimpin daerah.

Mau posting seratus postingan sehari, yang cinta ya tetap cinta, yang sayang ya tetap sayang. Yang benci ya tetap rindu…eeeh…

Jadi…kenapa kita gak mengikuti filosofi lele bakar. Mari hormati pilihan masing-masing. Bergandengan tangan bersama menuju bilik suara, mensukseskan proses demokrasi.

Siapapun pemenangnya, dialah juaranya. Gak perlu juga dicela-cela, toh semua ganteng adanya (eeeeh…ya iyalah semua ganteng menurut istrinya masing-masing). Pemilihan langsung bisa memenangkan siapa saja, bukan soal lebih bersih, lebih manusiawi atau lebih berwibawa (lha..lha..kok jadi slogan DKI jaman gubernur wiyogo kalo gak salah…BMW..Bersih Manusiawi Wibawa…haha…ketauan deh angakatan lahirnya). Soal siapa mendapatkan suara lebih banyak.inilah resiko demokrasi, bahkan Hillary pun dg legowo mengucapkan selamat kepada Donald Trump. Gak malu kalah sama Amerika yang suka kita cela-cela?

Sekarang mungkin kita cuma meributkan pilgub, kalo dibiasakan, besok-besok pemilihan kepala desa, pak RT, bawaannya mau berantem juga.

Jangan sampe yaaa kita bahkan ngeributin lele bakar vs ayam rendang.

Selamat menikmati demokrasi

Saya menikmati dendeng batokok saja.

Pekanbaru, 18 November 2016

Sambil nunggu pesawat di ruang tunggu bandara.

Iklan

2 respons untuk ‘Filosofi lele bakar dan ayam rendang 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s