Tulisan pertama saya di Qureta

Awal September kemarin saya mencoba mengikuti lomba menulis bertema kemanusiaan yang diadakan oleh Qureta dan ICRC.

Karena kesibukan kerja dan dilanjut liburan, jadi tidak pernah cek lagi apakah tulisan saya dimuat atau tidak. Dan senangnya adalah karena tulisan saya dimuat, sodara-sodara.

Walau tulisan yang dimuat masih diseleksi tim juri dan probabilitas menangnya sangat kecil, cuma happy sangat bisa punya artikel di media online yang dilihat lebih dari 700 orang.

qureta

http://www.qureta.com/post/toleransi-dan-intoleransi-bisa-menular

Jadi semangat buat nulis dan nulis lagi!!

Happy writing!

===

Toleransi dan Intoleransi Bisa Menular!

Beberapa bulan lalu, media ramai memberitakan tentang seorang ibu pemilik warung di Kota Serang, Banten, yang dirazia saat berjualan di siang hari pada Bulan Ramadan. Riuh rendah berita di televisi, sampai juga di halaman akun sosial media saya.

Ada yang menyalahkan tindakan satpol PP, ada yang menyalahkan tindakan si ibu yang melanggar Peraturan Daerah (Perda) yang melarang berjualan saat bulan puasa, ada yang menyalahkan Perda yang sudah dibuat, ada yang menyalahkan orang-orang yang mengumpulkan donasi untuk ibu tersebut.

Pokoknya, isi dari semua berita itu adalah: orang salah-salahan. Dan yang paling epic, tentu saja STMJ: Semua Topik Menyalahkan Jokowi. Yah, terima nasib aja ya, Pak. Namanya cowok kan biasa disalah-salahin. Karena kami kaum cewek memang maunya menang sendiri (ya kalo menang rame-rame panitia bangkrut nyediain hadiahnya, hihi.)

Hiruk pikuk ini membawa ingatan saya pada pengalaman belasan tahun yang lalu. Saat saya masih unyu-unyu, baru lulus kuliah, dan berani-beraninya ditempatkan di luar pulau, yaitu di Pekanbaru, Riau. Kalau saya wanita gagah perkasa dan pemberani, tentu tidak jadi pikiran ibu saya. Masalahnya, saya anak bungsu kesayangan ibu, yang jangankan hidup mandiri, makan pun kadang masih minta disuapi.

Beberapa bulan tinggal di sana, dan jatuhlah bulan Ramadan. Di sana, tidak seperti Jakarta tempat orangtua saya, ataupun di Solo tempat saya kuliah, di mana warung makanan bebas-bebas saja buka saat bulan Ramadan (ingat ini kota Jakarta dan Solo belasan tahun yang lalu.)

Di Riau sudah ada peraturan yang melarang pedagang membuka warung mereka pada siang hari di bulan Ramadan. Hmmm…jadi tiap pagi dan siang saya akan makan kari ayam, soto ayam, dan ayam bawang dalam bentuk mie instan selama 30 hari, kayaknya. Memang, pemalas seperti saya gak ada usaha-usahanya buat bangun pagi dan masak.

Hari pertama puasa, saya memulai rutinitas seperti biasa. Bangun jam 6 pagi, mau siap-siap mandi. Ternyata di pintu sudah ada selipan kertas bertuliskan: “Ndang, kalo mau sarapan nasinya di magic com ya. Lauknya di wajan di atas kompor. Kalau mau dipanasin tinggal nyalain kompor. Bisa, kan? Warung nggak ada yang buka soalnya.”

Itu tulisan tangan teman kos di kamar sebelah. Dia sudah berangkat sejak lepas subuh ke rumah sakit, karena kebetulan dia perawat di kamar operasi yang harus bertugas dini hari. Teman saya berjilbab, seorang yang santun dan taat beribadah. Dan dia masih mengingat saya, temannya yang dodol ini tidak tahan lapar tapi juga malas memasak.

Saat saya sedang bersiap ke kantor, tiba-tiba pintu diketuk. Ternyata ibu warung sebelah yang mengetuk. Dia membawa sepiring nasi dan lauk pauk lengkap. “Nak, tak ada warung buka hari ini. Ini ibu sisihkan makanan untuk kau sarapan. Makanlah.”

Saya mengucapkan terimakasih berkali-kali, dengan perasaan mellow tak karuan. Sungguh tidak menyangka dalam 1 hari sudah ada 2 orang yang begitu baik terhadap saya. Di luar kebaikhatian itu, ada toleransi dan sikap peduli yang sangat tinggi.

Apakah kebaikan hati dan toleransi yang luar biasa itu akan menambah atau mengurangi nilai ibadah mereka? Saya tidak tahu. Dan teman maupun ibu warung itu saya pikir juga tidak hendak memperhitungkan pahalanya terhadap Tuhan.

Bukan hendak berhitung return of investment terhadap Tuhan, jika saya berbuat ini, maka saya akan mendapat itu. Bukan hendak memamerkan kesalehan mereka. Bukan juga hendak menunjukkan superioritasnya. Saya pikir mereka beribadah karena Tuhan, dan mereka berbuat baik kepada orang lain juga semata karena rasa syukur mereka terhadap Tuhan.

Rasa mellow saya pagi itu membawa saya mundur ke masa yang lebih jadul lagi. Saat saya masih kecil, orangtua saya juga mempunyai kosan.  Setiap bulan Ramadan, walau tidak puasa, ibu saya tetap bangun pagi hari. Masak nasi, waktu itu belum ada magic com yang praktis. Juga lauk dan sayur serta membuat teh hangat.

Sesudah semua matang, barulah ibu mengetuk kamar anak-anak kos, membangunkan mereka untuk sahur. Karena sama seperti saya yang pemalas, ndilalah anak-anak kosnya juga pemalas.

Sore hari, kalau ada rejeki berlebih, ibu saya suka membuatkan kolak, asinan atau es buah, untuk berbuka bersama-sama. Kalau tanggal tua pun minimal teh manis dan gorengan. Semua itu for free. Gratis. Jadi bukan aji mumpung jual nasi kotak. Tapi murni karena ibu saya menyayangi anak-anak kos seperti anaknya sendiri.

Saya yakin ibu saya juga tidak memperhitungkan kebaikannya sebagai amalan atau mencari surga. Beliau juga tidak membayangkan bahwa belasan tahun kemudian, anaknya mendapatkan kebaikan yang sama dari orang lain.

Kebaikan, sekecil apapun, akan berbuahkan kebaikan. Entah saat itu juga, besok, lusa, atau mungkin di waktu yang lebih lama. Bisa langsung ke kita yang memberinya, bisa juga diteruskan ke orang lain dan terus dilanjutkan ke orang lain lagi.

Sama halnya seperti kebaikan dan toleransi, sikap intoleransi pun cepat atau lambat akan berbalaskan intoleransi. Sikap itu juga akan menyebar ke orang lain, diteruskan dan ditularkan dengan lancar dan mudah melalui bisik-bisik tetangga, gosip di grup WA, kasak kusuk di akun sosial media.

Kalau kita jengah dengan ujaran bernada prasangka atau kebencian, solusinya mudah. Kita tinggal leave group, Klik tombol unfriend atau yang lebih ekstrem, kita bisa malas ikut kumpul tetangga atau saudara.

We can live without you, haters. Tapi, apa iya kita hidup untuk kita saja? Bagaimana dengan anak-anak kita nanti?

Belasan tahun dari sekarang, anak-anak saya bisa jadi tidak mengalami takjubnya hidup saling membantu dan memberi antar teman yang berbeda suku, agama, ras dan antar golongan. Apa anak saya harus hidup di sekolah yang homogen supaya dia tidak minder? Apa anak saya tidak akan mengalami senangnya bertandang ke rumah teman yang berhari raya?

Karena intoleransi menyebar dengan massif, maka kita harus menyebarkan toleransi dan kebaikan dengan lebih massif lagi. Jangan berhitung soal bertenggang rasa dengan keluarga, tetangga, teman kerja. Sedikit kebaikan setiap hari akan menjaga kebhinekaan di bumi pertiwi.

#LombaEsaiKemanusiaan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s