A Day in Day Care

Seminggu ini salah satu mbak asisten saya mudik. Biasanya kalau cuma ada 1 mbak maka saya akan ambil cuti. Cuti mbak-mbak saya 12 hari kalender bisa diambil setahun dua kali (kecuali ada special condition). Sehingga kalau cuti kedua mbak diambil tidak dalam tempo bersamaan total ada 24 hari, sementara cuti saya cuma 25 hari, lha iso entek kalo diambil terus-terusan buat nggantiin inval mereka. Belum lagi minggu ke-4 di pekerjaan saya betul-betul hectic week, jadi kalaupun bisa cuti sudah pasti harus stand by di depan laptop walau di rumah.

Alternatif lain adalah minta tolong ayah atau ibu saya buat setidaknya mengamat-amati si kecil kalau 1 mbak yang lain harus jemput si KK sekolah atau harus cuci pakaian. Tapi kebetulan minggu ini bapak, ibu dan kakak-kakak saya ke Yogya. Kebetulan pas bulannya ruwah dalam hitungan kalender Jawa. Kebanyakan orang Jawa melakukan nyekar atau selametan atau apalah sebelum bulan puasa.

Jadi cuma ada 1 mbak dan 1 anak umur 5 tahun yang harus diantar jemput sekolah dan 1 anak 2 tahun yang lagi heboh-hebohnya manjat-manjat dan lari-lari kemana-mana. Kayaknya bakal repot si mbak, atau anak saya yang kecil tidak terpantau maksimal. Untunglah berdasarkan pergosipan ibu-ibu sekolah anak saya, ternyata disini asal anak bersekolah di sekolah anak saya, dia bisa dititipkan daily.  Per harinya pun hanya Rp 100,000 sudah termasuk makan siang dan sore.

Jadi hari Senin saya ambil cuti, untuk antar anak saya ke sekolah sekaligus mendaftarkan ke daycare. Saya bilang ke si KK bahwa nanti kakak akan camping di sekolah, makan dan bobo siang disana, sampai bunda jemput ke sekolah sore sepulang kantor. Sampai di kantor administrasinya, ternyata petugasnya bilang “Ibu tidak bisa harian disini kalau anaknya belum pernah mencoba sama sekali di day care. Yang dikhawatirkan anak tidak suka dan malah trauma ke sekolah.”

Aduh…saya gak punya persiapan Plan B ini. Ibu petugasnya memberi solusi, “Atau bisa dicoba dulu Bu untuk observasi, dalam artian, kapanpun anak rewel atau tidak betah, orangtua harus menjemput.”Waa…baiklah. Saya tanya “biayanya bagaimana bu?” Kata si Ibu “nanti saja Bu, kita coba dulu saja. Kalau anaknya suka baru ibu membayar.” Yeaaayyy…suka bangeet…emang sih pegawai-pegawai disini jauh dari kesan materialistis.

Jadi malamnya saya sudah siapkan baju ganti 2 stel, handuk, peralatan mandi, snack kesukaannya, dan perlengkapan sekolah seperti biasa. Hari Senin, saya sampaikan pesan ke wali kelasnya, bahwa hari ini anak saya akan day care. Sehingga pulang sekolah akan langsung diarahkan ke tempat day care yang hanya di sebelah ruang-ruang kelas.

Selama di kantor, beberapa kali saya tengok HP, tidak ada sms atau miscall dari sekolah. Mungkin kondisi aman lancar. Pulang dari kantor, saya langsung ke sekolah untuk menjemput. Anak saya tampak sudah mandi, keramas, berganti pakaian dan makan di meja makan bersama teman-temannya. Menunya nasi, sayur bayam jagung dan tempe goreng serta pudding gula merah. Saya dipersilahkan masuk kalau ingin menemani anak saya makan. Ada 20-an anak dari beberapa kelas. Teman sekelas anak saya hanya ada 1 orang laki-laki. Beberapa anak kecil perempuan ada yang menghampiri, menyapa saya dan mengajak berkenalan. Ternyata dari kelas A-3, ada 4 anak perempuan sehingga mereka tampak begitu akrab.

Selesai makan yang sudah pasti lama banget (secara teman-temannya sudah bermain di luar), akhirnya kami pamit dengan para pengasuh. Ada sekitar 5 orang pengasuh, 1 petugas administrasi, dan 1 suster. Di jalan anak saya ceria bercerita. Seems everything will be running well until next 3 days.

Di rumah, menjelang bobo malam, mulailah saya bertanya-tanya detail. Bagaimana tadi di day care-nya? Pulang sekolah ngapain aja? Siang makan apa? Habis nggak? Bobo siangnya gimana? Kasurnya nyaman? Yang mandiin siapa? Kakak dikeramasin gak papa? (karena anak saya tipe yang gak bisa keramas digerujuk – manja tingkat dewa-dewi), dan lain-lain, laiknya emak-emak rempong seperti saya.

NET NOTT!! Entah percakapan saya salah atau benar ya…tiba-tiba anak saya bilang

“Bunda aku gak mau camping di sekolah lagi besok.”

“Lho, kenapa? Tadi di sekolah katanya nyaman. Enak. Banyak temannya.”

“Nggak. Aku gak mau.”

“Tapi kalau KK di rumah bagaimana besok? Kalau KK mau tidur, minta dikelonin mbak, adik sama siapa? Kalau adik bobo dikelonin mbak, KK sama siapa? Kalau KK mau ee’, adik manjat-manjat gak ada yang liatin. Kalau KK mau maem mbak gak bisa suapin gimana?”

Dia berpikir lama dan akhirnya bilang.

“Bisa bunda, aku besok tidur gak minta dikelonin, aku minta susu aja sama pegang guling. Adik biar dikelonin mbak. Kalau aku ee’, adik ditaro aja di bath tub dikasih mainan. Kalau aku maem nanti bareng sama adik aja, jadi mbak nyuapin aku, nyuapin adik, nyuapin aku, nyuapin adik, gantian.”

“Oke baiklah, kalau KK janji begitu.”

“Siap kapten Bunda. Janji kaktus” (perpaduan kebanyakan nonton Jack and The Neverland Pirates serta Sheriff Callie)

Hmmm…mungkin day care hari ini bukan hal yang membuat dia nyaman dan senang. Tetapi yang pasti membuat dia belajar lebih mandiri (seperti diatas saya sebut kalau manjanya tingkat dewa-dewi). Membuat dia belajar berbagi dengan adiknya, dan membuat dia belajar mencari solusi buat suatu masalah.

Jadi keesokan harinya, saya bilang sama si Mbak.

“Mbak, KK gak mau day care. Jadi hari ini kamu jemput di sekolah sama adik naik ojek, bisa? Nanti baju minta tolong cuci gosok sama tetangga aja lah. Makan juga beli aja di warung.” Mbak pun menyanggupi.

Pulang kantor, sampai di rumah, kedua bocah sedang bermain bersama di ruang tengah, rukun damai, bersama 1 container mainan yang awut-awutan memenuhi ruangan. Masakan sudah siap di meja makan dan buatan sendiri gak dari warung. Cucian juga sudah di cuci dan gosok bahkan oleh si Mbak, gak jadi minta tolong tetangga.

“Lho mbak? Emang kamu bisa ngerjainnya?”

“Bisa kok Bund, KK bobonya sendiri gak minta ditemenin. Pas Ade bobo saya nyuci nyetrika.  Mandiinnya sekalian dibarengin. Pas masak, malah si KK bantu jagain adek.”

Woowww….So proud of you my little sheriff. Kamu menepati janji kaktusmu!!

Adik sama Kakak  juga anteng-anteng aja main gak pake rebutan.

Habis Bunda mandi dan makan….

“BUNDAAAAA!!! ADEEEEK niiiiih rebut mainankuuuuu!!! GAK BOLEEEH ADEEEKK!”

“MAMAAA!!! KAKAAAK!! Mauuuu….Mauuu!!!”

Beuuugh….kirain udah pada insyaf….

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s