Berlelah Mencari Sekolah (3)

Akhirnya si KK sekolah di sekolah pilihan Bunda. Pertama semua berjalan aman lancar terkendali. Dia masuk setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Bunda antar dan ikut menemani untuk 1 minggu pertama. Anak saya dalam beberapa hal pendiam dan pemalu…ya kayak emaknya inilah…ceileee…., jadi kalau ditanya gimana sekolahnya? happy gak hari ini?  dia cuma bilang “tauu” “lupaa” dan sebagainya.

Suatu hari mbaknya cuti, jadi saya anter ke sekolah. Karena dia ngambek jadi saya menemani di dalam kelas. Ternyata walau saya sudah pernah ikut full trial class dan ikut di kelas di minggu pertama, belakangan mereka membaca doa baik masuk kelas, mau belajar, doa makan dan doa pulang dalam bahasa non-Indonesia. Jadilah anak saya melongo sendiri di kelas. Setelah saya cari tahu ke gurunya, anak saya satu-satunya murid yang beragama Kristen. Ya tapi gak begini juga kaliii, toh saya sudah membayar kewajiban yang sama. it’s not about I’m paranoid about other religion, saya cuma merasa guru-gurunya tidak mengerti kalau anak saya jadi merasa berbeda dan minder.

Waktu itu saya sudah berpikir akan pindahkan sekolahnya. Tapi anaknya tidak mau, mungkin karena dia sudah merasa senang dengan teman-temannya. Saya beri pengertian ringan soal kebhinekaan di Indonesia, dan it’s Ok if you’re different with your friends. Selama kita baik di sekolah dan teman-teman baik kepada kita.

Semester berikutnya, sesudah libur semester,  masuk hari Selasa, Kamis dan Jumat. saya cuti untuk mengantar anak saya di minggu pertama dia sekolah. Sesuai  panduan, hari Kamis adalah pakaian bebas dan pelajaran Agama dan satu pelajaran lagi (saya lupa). Jadi saya pakaikan anak saya baju bebas. Sampai sekolah…tuing tuing…semua teman sekelasnya memakai baju seragam baju koko dan baju kurung kotak-kotak. Kembali anak saya diam.

Proteslah saya ke guru nya. Kata gurunya, untuk yang beragama Kristen bisa pakai baju putih hitam dan ikut kelas agama di lantai 2. she’s just thinking as simple as that, sama sekali tidak berpikir psikologi anak yang merasa dia memakai seragam yang salah.

Di kelas agama ada 3 anak termasuk anak saya, yang 2 adalah anak TK A atau B. Yang 2 sudah memakai seragam putih hitam karena mungkin mereka sudah lebih lama bersekolah disbanding anak saya. Masalahnya hari Kamis kan bukan hanya pelajaran Agama, sesudah nya akan ada pelajaran lain dan anak saya akan jadi satu-satunya anak yang memakai baju beda di kelas.

Buat saya pribadi, kenapa sih gak disamain aja. Saya juga gak keberatan anak saya pakai baju kurung, sama seperti saya gak keberatan anak saya pakai baju batik atau kebaya. Jadi akhirnya saya belikan baju seragam yang sama untuk anak saya. walau bu gurunya bilang “gak apa-apa bu tidak sama, boleh kok pakai baju hitam putih.” saya tetap nyolot dalam hati.

Akhirnya saya survey sekolah lain bersama anak saya. Walau dia berkeras tidak mau pindah sekolah, saya bilang “kita lihat saja dulu, nanti kalau KK gak suka ya gak jadi pindah”.

Sekolah pertama yang saya survey adalah Mitra Penabur Tanjung Duren. Tempat nya di ruko kecil, mungkin cuma 1 ruko. Saat itu ruko sebelahnya kosong, jadi parkiran mobil bisa sampai di depan ruko sebelah. Tapi kalau ruko itu terisi, praktis cuma bisa 2 mobil, atau 4 jika mau sampai bahu jalan.

Lantai 1 berisi meja resepsionis (setelah di sekolah sebelumnya ruang TU-nya 1 ruangan besar dan 1 ruang tamu plus teras, disini cuma seperti lobby kecil di sudut). Sudut lainnya ada beberapa kursi untuk penjemput. Mungkin hanya muat 10 orang (di PG sebelumnya ruang tunggu nya luas sekali disediakan khusus di luar gedung). Disini ada peraturan bahwa kalau telat menjemput dikenakan denda. Ya mungkin benar juga karena ruangan terbatas. Masuk di dalam ada ruang tunggu anak-anak sebelum masuk ke kelas mereka. Isinya ruang sekitar 3×3.5 m, berlapis evamat di lantai dan dinding tidak ada apa-apa. Anak-anak bermain  disana. Kasiaan yaaa…secara di sekolah sebelumnya ada lapangan luas berbentuk L yang berisi mainan komplet dan kolam ikan.

Sesudah itu bu guru mengajak anak-anak berbaris dan masuk kelas. Karena anak saya tidak mau sendiri, akhirnya saya menemani. Kelasnya ada di lantai 2 dan 3. Saya lihat ada yang latihan balet (ekskulnya) di salah satu kelas.

1 kelas ada sekitar 15 anak dengan 2 guru tanpa asisten. Jadi kalau salah satu anak mau pipis yang mengantar adalah bu guru. Kelas berbahasa inggris, dibuka dengan berdoa, menyanyi dan bermain sebentar. Kemudian guru yang satu bercerita dari alkitab dengan bahasa Indonesia. Sesudahnya pelajaran menulis. Jadi setiap hari mereka latihan 3 huruf. Murid diajar untuk belajar aktif. Setiap mereka bisa menjawab, mau memimpin kegiatan, maka mendapat 1 bintang. Bintang-bintang itu dimasukkan ke dalam toples dengan nama mereka dan disimpan di sudut kelas.

Sesudah itu makan bersama. Sementara anak-anak makan, bu guru menulis buku pengantar siswa tentang pelajaran hari itu dan pesan kesan tentang anak untuk dibaca orangtua.

Overall program cukup bagus. Cuma memang infrastuktur nya minim sekali. Susah parkir, untuk bermain pun di lantai 4,  bu gurunya suka ketuker-tuker berbahas inggrisnya (misal bilang her dengan she). Sedikit overprice dengan fasilitas seperti itu. Tapi bisa jadi pertimbangan.

Lanjut ke Sang Timur Kemanggisan. Melewati jalan Gili Sampeng yang pas 2 mobil, tiba-tiba di ujung nya saya terperangah ada jalanan guedhe banget dengan rumah-rumah segede gaban tertata rapi. Belakangan saya baru tahu ini adalah komplek Tosiga…Tomang City Garden (gilaak ya siapa yang punya rumah disini?…wong ndeso gumunan…). Disitu berbaris rapi dari mulai PG sampai SMA. Bahkan ada day care untuk balita pula. Parkiran super luas (walau tetap aja ya gak muat, dan akhirnya kita banyak parkir di dalam perumahan yang untungnya punya jalan segede gaban pula.

Jajanan juga lebih komplet, walau untuk rasa dan harga jajanan TK Bhakti masih juara. Ekskul nya komplet ada Inggris,  Mandarin, Gambar, Tari, balet, taekwondo, marching band dan renang. Dan harganya murcee bingitzz…cuma Rp 400-600rb/semester dibayar di muka.

Ini foto sekolahnya. Bagian SD or SMP nya sih, tapi kurleb suasananya sama. Tenang bersih dan nyaman. (kenapa sampe sini foto jadi berotasi yaa?? maafkeuun)

sangtimur

Halaman untuk bermain indoor dan outdoor juga luas, yaa pas lah dengan kriteria manusia jadul kayak saya. Sebetulnya udah jatuh hati sama sekolah ini, cuma kurang sreg sama murid nya yang buanyaaak nya minta ampun. Jadi 1 kelas ada A, B, C, D. Masing-masing ada sekitar 20-30 anak. Jadi anggap PG 100 anak, TK A 100 anak, TK B 100 anak = 300 anak dibagi 2 pagi dan siang. jadi ada 150 anak dalam 1 shift. itu gimana pak security merhatiin satu-satu ya? Belum lagi saat pergantian anak pagi pulang dan anak siang datang. Lieeur eeuuy…

Berbeda sama TK Bhakti yang security nya ada 3 atau 4 orang (pokoknya banyak banget deh). Ada gerbang 1 tempat orangtua mengantar anak, dan ada gerbang 1 lagi sebelum lapangan upacara dimana orang tua tidak boleh masuk tanpa tanda pengenal. Sepanjang saya lihat disini TK cuma punya 1 security. Dan mbak-mbak pengantar saking banyaknya muridnya tampak mulai dari depan sebelum gerbang sampai dalam di pintu mau masuk ke ruang-ruang kelas (memang sih gak boleh masuk sampai dalam sekali).

Sempet ketemu orang tua di sekolah minggu yang anaknya sekolah di Yasporbi. Katanya bagus. Sekalipun sekolah umum tapi sangat toleran. Kepala sekolahnya baik, saya dikasih nomer BBM nya dan sempat chat. Tapi karena sudah terlanjur trauma jadi saya skip saja.

Saya sempat bertemu juga dengan orang tua dari teman les piano anak saya. Dia sekolah di Tarsisius. Katanya setiap hari ada PR..tuing..tuing…Lagipula bangunan sekolahnya suram. Kalau memang mau yang suram-suram, saya prefer Regina Pacis, karena peringkat sekolahnya cukup bagus bahkan di tingkat DKI.

Sesudah menimbang dan mengukur isi tabungan…huaaa bayar uang gedung lagi cyiiin…saya piker di Sang Timur OK lah. Hal terberat kedua adalah bilang ke suami saya…hiks…iya secara sebelumnya kita argue soal sekolah dan terbukti kekuatiran suami saya benar. Ya sudahlah kalaupun dia merepet nanti biar uang gedungnya kubayar dari uang jajan bunda.

Jadi di suatu sudut lampu merah, saya bilang, “yah kayaknya aku salah deh pilih sekolah si KK”

Kenapa juga ya ngomong serius mesti dilampu merah?

Dia nengok sekilas terus ngeliat lampu merah yang jadi lampu ijo, injek gas dan jalanin mobil dan ngomong “ya udah cari sekolah lagi aja. Tabungan KK ada kan buat bayar sekolahnya.”

Jadi gitu ya ibu-ibu, kalo mau ngomong yang kira-kira berat sama suami, di lampu merah aja. Karena persoalan maha berat pun jadi berasa ringan dibanding ngegas jalan melintas lampu ijo.

Saya happy banget. Karena tidak seperti emak rempong yang akan bilang “tuh kaaan kubilang juga apaaa?” plus nyinyir ceramah 7 jam. Ternyata simple bingitz…dan uang jajan saya pun gak kepotong tapi uang jajan si KK…huaa sama aja siiih….

Memang suatu keputusan pasti ada resiko biayanya. Ini saya udah serempong ini aja masih keblejok apalagi gak direncanain yaa…malah aman kali ya 🙂 pake rumus cap cip cup kembang kuncup 🙂

 

 

 

 

Iklan

7 respons untuk ‘Berlelah Mencari Sekolah (3)

  1. Hi mom, trims ya sharing nya

    Mom apakah mom bekerja dengan 2 anak? Bisa bagi tips manage waktu dan hati untuk ibu bekerja.
    Saya sebentar lagi selesai cuti melahirkan, namun ragu apa bisa bekerja lagi dengan dua anak, yang satu lagi aktif banget dan yg satu baru akan 3 bulan. Trims ya mom.

    Suka

    1. Hai mbak..iya anakku 2 beda 3 th. Challenge terbesarnya si KK iri sama AD. Aku kebetulan didukung “support system” yang baik. Ada 2 mbak asisten yg baik hati jd agak tenang ninggalin bekerja dan bs gak trll capek jd pumping nya lancar. Ortuku jg rutin nginep buat bantu ngawasin saat aku kerja.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s